INGAT TAN MALAKA, YANG DIFITNAH DAN DILUPAKAN

Oleh: I Wayan Sugitha

Sepanjang hidupnya, Tan Malaka penuh keprihatinan karena dikejar Belanda, Jepang, dan serdadu Indonesia. Tan adalah salah satu pendiri bangsa yang tidak pernah menikmati manisnya kekuasaan.

Nama asli Tan Malaka adalah Sutan Ibrahim Gelar Datuk. Ia lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatra Barat, tahun 1896. Setelah menempuh pendidikan di Kweekschool di Bukittinggi, ia pergi ke Belanda. Ia kembali ke Indonesia pada 1919 dan bekerja di perkebunan Tanjung Morawa, Deli.

Dia meninggal dalam penyergapan oleh tentara yang dipimpin oleh Letnan Dua Soekotjo, tanggal 21 Februari 1949, di Selopanggung, dalam kemelut ideologi.

Jasa Tan Malaka tidak kecil. Beliau adalah penulis Naar de Republiek Indonesia, yang terbit pada 1924, sebelum Hatta menulis Indonesia Vrij (1928) dan Soekarno Menuju Indonesia Merdeka (1933), serta kaum pemuda lewat Sumpah Pemuda (1928).

Tan Malaka masuk Sarekat Islam pada 1921. Pendiri Partai Murba (1922–1948). Bukunya secara tegas menyebutkan bentuk negara Indonesia kelak adalah republik dan bukan kerajaan.

Bukunya menjadi bacaan wajib bagi kaum republiken dan revolusioner muda pada saat itu. Gagasan Tan justru relevan dibicarakan di tengah situasi politik yang minus moralitas.

Absennya prinsip-prinsip yang kuat dan dikerumuni politisi dengan kepala kosong, mengandalkan kepalan tangan, retorika murahan, dan nafsu berburu kuasa. Lahirnya partai politik pascareformasi bagai jamur, tidak ada perbedaan, ideologi seragam, berujung pada pragmatisme.

Sehingga tidak perlu heran jika politisi lompat dari satu partai ke partai lain dan membuat partai baru, dengan beda lambang, nama, namun isinya bancakan dana sosial.

Lembaga politik yang bukannya mendidik rakyat agar aktif membangun, namun kuasa yang dihampiri adalah uang. Sekarang yang ada teriakan politisi yang meminta-minta agar dicoblos dengan menjual isu politik partisan, kesukuan, dan fantasi.

Dalam situasi politik jahiliah, jangan harap ada politisi sekelas Tan Malaka. Mereka berjuang dari penjara ke penjara demi prinsip melahirkan Indonesia merdeka dan sejahtera.

Namun, politisi sekarang berurusan dengan KPK, Kejagung, demi kelompok dengan cara-cara yang hina.

Posisi Tan, menurut Harry Poeze, adalah istimewa saat itu di kalangan kaum pergerakan. Selain dimusuhi Belanda, juga serdadu Indonesia.

Mengapa?

Karena Tan sering mengkritik tajam serdadu Indonesia yang lari ke gunung, menghindari rakyat dan sengsara menghadapi pasukan Belanda. Itulah sosok Tan yang tak surut mengkritik siapa saja.

Meskipun ia membayar dengan nyawanya dan dieksekusi serdadu Indonesia. Makamnya ditemukan di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Buku yang merupakan penghargaan terhadap beliau bertajuk Difitnah dan Dilupakan (Verguisd en Vergeten) sebagai Bapak Republik dan Bapak Revolusi.

Posisi Tan Malaka dalam konstelasi founding father sering membingungkan. Ada yang menyebutnya “pemberontak” karena antikompromi pada penguasa, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai figur penting dalam hiruk-pikuk kemerdekaan kita.

Namun, dari karya-karya yang ditulisnya dalam kiprah hidupnya, antara lain:

  • Dasar Pendidikan (1921)
  • Menuju Republik Indonesia (Naar de Republiek Indonesia, 1924)
  • Massa Actie, Local Actie, Nasional Actie (1926)
  • Asia Bergabung (1943)
  • Madilog (1943)
  • Pandangan Hidup (1948)
  • Dari Penjara ke Penjara (1948)
  • Proklamasi, Isi dan Pelaksanaannya (1948)

Tan Malaka adalah sosok pahlawan.

(Asep Salahudin, “Mengingat Tan”, Kompas, 24-10-2015; Rusdian Syah, “Tan Malaka, Acap Difitnah, Kini Dipuja”, Jawa Pos, 29-1-2014).

Selamat beraktivitas, sahabat dan pembaca budiman. Salam sehat, sukses, Rahayu.

Scroll to Top