KAIBAUK, BELAK YANG BERINTIKAN CINTA KASIH

Oleh: I Wayan Sugitha

Dalam budaya Timor-Leste, ada dua hal yang disebut Kaibauk dan Belak. Keduanya merupakan jenis perhiasan yang berasal dari budaya Timor-Leste, khususnya etnis Tetum. Keduanya terbuat dari logam mulia.

Kaibauk melambangkan tanduk kerbau dan cahaya matahari. Kaibauk dapat digunakan sebagai hiasan kepala yang dikenakan di dahi.

Kaibauk merupakan lambang kekuatan, energi, dan kehangatan. Ia juga mewakili kuasa Tuhan yang memberikan kehidupan.

Sedangkan Belak digunakan di dada dan berfungsi melengkapi Kaibauk. Belak melambangkan cahaya bulan yang lembut dan rendah hati.

Ia memantulkan cahaya matahari di malam hari dan menyelimuti segalanya dengan cahaya. Belak berbicara tentang kesuburan, kedamaian, kemanisan, serta melambangkan kelembutan seorang ibu dengan gerakan kasih. Apa pun yang disentuhnya akan bersinar.

Kaibauk dan Belak menunjukkan kekuatan dan kelembutan ayah dan ibu. Sungguh, keduanya menunjukkan kuasa Tuhan yang menyatakan bahwa kekuasaan-Nya terdiri dari kasih dan belas kasih.

Gereja terus bergerak, tidak diam dan tidak berputar di sekitar diri sendiri, tetapi terbakar untuk membawa sukacita Injil kepada semua orang.

Hal yang sama juga tidak berbeda. Begitu pula Desa Pakraman dengan ajaran Tri Hita Karana yang hidup dan membawa ajaran Mpu Kuturan kepada seluruh warga Desa Pakraman.

Jadi, Kaibauk dan Belak menunjukkan kekuatan ayah dan ibu. Di Bali, hal ini disebut Purusa-Pradana. Keduanya melambangkan kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang intinya juga adalah cinta kasih.

(Paus Fransiskus, “Berilah Dirimu untuk Orang Lain”, Kompas, 11 September 2024)

Selamat beraktivitas, sahabat dan pembaca budiman.

Salam sehat dan rahayu.

Scroll to Top