TRAGEDI TIGA PEMIMPIN KABINET

Oleh: I Wayan Sugitha

Tiga orang yang pernah duduk di kursi paling tinggi negara, merancang diplomasi, memimpin kabinet, bahkan menyelamatkan Republik dari kehancuran.

Namun, bangsa yang mereka bangun sendiri kemudian menjebloskan mereka ke penjara tanpa proses melalui pengadilan.

Siapa mereka bertiga itu?

1. Mohammad Natsir

Dialah yang menyelamatkan keutuhan wilayah kita melalui “Mosi Integral Natsir” pada 1950.

Tanpa kecerdasan politiknya, NKRI hari ini mungkin masih berupa serpihan negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS) yang rapuh dan terpecah belah.

Ia memimpin kabinet dengan kejujuran yang ekstrem dan mundur dari jabatan Perdana Menteri tanpa membawa sepeser pun harta kekayaan.

2. Sutan Sjahrir

Sang “Bung Kecil” berotak raksasa. Perdana Menteri pertama Republik Indonesia di usia 36 tahun.

Sjahrir mengguncang panggung PBB dengan retorika diplomasinya yang memukau dunia Barat.

Ia adalah peletak dasar sistem demokrasi di awal kemerdekaan.

3. Haji Agus Salim

Sang guru bangsa. “The Grand Old Man”. Diplomat yang paling banyak menguasai bahasa asing itu adalah benteng argumen di luar negeri.

Hidupnya yang sangat bersahaja menjadi teladan mutlak bahwa “memimpin adalah menderita”, bukan memperkaya diri.

Namun, badai politik Orde Lama pada awal 1960-an mengubah segalanya.

Akibat perbedaan pandangan politik yang meruncing dan kritik tajam terhadap kebijakan serta arah bangsa, takdir pahit harus mereka telan.

Pada 1962, tanpa melalui proses pengadilan yang sah, Mohammad Natsir dan Sutan Sjahrir ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Sjahrir yang kesehatannya ambruk dalam tahanan akhirnya wafat dalam status tawanan politik di Zurich pada 1966.

Natsir pun menghabiskan hidupnya bertahun-tahun di tahanan militer.

Begitulah tiga orang yang pernah duduk di kursi paling tinggi negara, merancang diplomasi, memimpin kabinet, bahkan menyelamatkan Republik dari kehancuran.

Justru bangsa yang mereka bangun sendiri yang menjebloskan mereka ke penjara tanpa pengadilan.

Apa yang dialami mereka bertiga itu disebut tragedi. Tanpa rasa haru, tragedi otomatis lenyap.

Selamat beraktivitas, sahabat dan pembaca budiman. Salam sehat dan rahayu.

Scroll to Top