Jangan terbang terlalu rendah, air laut akan membasahi sayapmu. Jangan terbang terlalu tinggi , karena panas matahari akan melelehkan lilin yang melekat pada sayapmu. Daudalus ingatkan putranya Icarus, agar mengenali batas kemampuan nya . Sayang nasehat dan petunjuk ayahnya tidak didengar.
Icarus karena terperosok oleh kebebasan dan keberhasilan terus terbang tinggi mendekati matahari. Tragis lilin yang melekatkan pada sayapnya meleleh ,ia jatuh dan mati. Itulah kisah ” Icarus ” dipakai sebagai metafora tentang ” Hubris ” yakni :
Kesombongan yang membuat seseorang tidak mau mendengar atau peringatan.
Meskipun kisah itu terjadi ribuan tahun lalu, kisah itu tetap relevan hingga kini. Pinjam pandangan David Owen, dokter dan mantan Perdana Mentri Inggris katakan, Hubris adalah sindrom yang berkembang ketika penguasa merasa tidak lagi membutuhkan evaluasi, masukan atau koreksi. Owen, melihat gejala yang serupa ketika kritik kehilangan tempat, kemampuan untuk mengoreksi kesalahan semakin tidak terlihat.
Gejala Hubris ada pada pemimpin dimasa lalu seperti China – Mao Zedong , Tony Blair Perdana Mentri Inggris.
Ditengah budaya politik patrimonial, Hubris tidak berhenti pada diri seorang pemimpin. Ia bisa jadi budaya Lembaga atau Institusi negara. Saat tau pemimpin pemimpin cendrung sulit menerima pandangan berbeda, orang – orang sekitar pilih jalan aman, asal bapak senang.
Mereka enggan sampaikan fakta yang tidak menyenangkan, kritik, peringatan pada resiko neggatif kebijakan, saat itu terjadi Hubris, yang awalnya ada pada pribadi pemimpin dan lambat laun tanpa disadari berubah jadi budaya Institusi. Dalam hidup berbangsa dan bernegara , jika budaya buruk Hubris dilestarikan, kepercaya an publik memudar.
Padahal kepercayaan publik merupakan legitimasi dalam demokrasi, ingat, tidak ada hukum tertinggi selain suara rakyat, dan rakyat sejati nya pemilik kedaulatan.
Penawar Hubris
Orang Yunani kuno mengenal istilah ” Sophro Sine ” . Kebajikan penawar Hubris yang lahir dari kesadaran bahwa tidak ada manusia selalu benar ,termasuk saat dipuncak. kekuasaan.
Karena itu Sophro Sine tudak kehilangan mampu mendengar , mempertimbangkan , dan mengoreksi diri sendiri.
Dalam hidup bersama, berbangsa, bernegara pemimpin perlu melakukan empat N .
1) pemimpin tidak hanya ” ngayahi ” atau mengurus yang dipimpin, tapi ikut 2) ” ngayemi ” ( menenangkan ) , 3) ” ngayomi ” (melindungi ), dan ” ngayani ” (mensejahtrakan).
Kalau tidak bisa ngayani, paling tidak bisa mengurus, membuat tenang dan melindungi rakyat yang sudah laksanakan hak dan kewajiban demokrasi nya.
Pemimpin perlu rendah. hati, konsisten bertindak baik agar lembaga yang dipimpin nya tidak hidupi budaya Hubris.
Pemimpin penting percaya diri, dan lebih penting sadar diri tidak ada kebijakan yangsempurna dan kekuasaan tidak selalu benar adanya .
Karena itu jika ada suara berbeda, termasuk demo dari mahasiswa tidak boleh semata – mata sebagai gangguan stabilitas atau ancaman terhadap kekuasaan .
Pemimpin agar belajar ingat pesan atau ungkapan yang disampaikan oleh Filsuf Romawi, Marcus Tullius Cicero semasa hidupnya ( 106 – 43 SM ) :
“Accipere Quam Facere Praestat Injuriam ” .
Ungkapan yang berisi pesan , kepada siapapun sebagai pemimpin . Pemimpin yang baik dan adil , lebih baik menderita ketidak adilan daripada berbuat ketidak adilan.
Nasib bangsa, rakyat dan negara yang dipimpin menjadi primus interpares – yang utama.
(Syamsudin Haris , Negara dan Drama Partai , Kompas , 16 – 2 – 2013, Darwin Darmawan , ” Hubris ” dan Kerendahan Hati Institusi , Kompas 25 – 6 – 2026 )
(Oleh : Wayan Sugitha Alumni FH Unud 1981,
FH, Notariat Universitas Pajajaran 1985)




