Oleh: I Wayan Sugitha
Pada 29 Januari 2026, Pita Maha genap berusia 90 tahun. Perkumpulan ini merupakan salah satu organisasi paling monumental dalam sejarah seni rupa Bali.
Memasuki perempat pertama abad ke-20, Desa Ubud masih sangat sepi. Namun, dua punggawa Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati dan Tjokorda Raka Sukawati, melihat taksu tersembunyi dari desa di pedalaman Pulau Bali itu.
Taksu itu, menurut kedua kakak-beradik tersebut, hanya bisa dipancarkan oleh para seniman. Karena itu, kesenian di Ubud harus dikembangkan.
Untuk memacu perkembangan tersebut, duo Tjokorda lantas memburu “tenaga perangsang”.
Mereka mencegati para turis asing yang masuk ke Bali. Para tamu yang mengaku sebagai pelukis, pematung, penggambar, dan budayawan digiring untuk singgah di Ubud.
Setelah sampai di Ubud, mereka dibujuk dan difasilitasi untuk bermukim dan berkarya. Mereka diharapkan memberikan variasi dan aksentuasi terhadap dunia seni di Ubud.
Kesenian di Ubud pun lantas berdenyut, bahkan bergerak-gerak. Dari celah-celah pergerakan tersebut muncullah nama Walter Spies (1895–1942) dan Rudolf Bonnet (1895–1978).
Sambil melukis, Spies dan Bonnet mengamati kosmologi yang dituangkan di atas kertas dan kanvas para pelukis Ubud dan sekitarnya.
Ada sesuatu yang “mampat”, demikian kesimpulan mereka. Lalu, Spies, Bonnet, I Gusti Nyoman Lempad, serta duo Tjokorda membentuk perkumpulan seni lukis Pita Maha pada 29 Januari 1936.
Arti Pita Maha
Pita artinya jiwa kreatif, sedangkan Maha artinya besar.
Meskipun didirikan dan berpusat di Ubud, Pita Maha menerima anggota dari Batuan, Klungkung, Sanur, Denpasar, dan desa-desa lain di sekujur Bali.
Pada awalnya, Pita Maha didirikan sebagai sebuah kelompok yang bermuara pada tujuan praktis: membangun elemen infrastruktur untuk mendukung pameran dan penjualan karya seni.
Namun, di balik itu terdapat agenda khusus untuk menularkan ideologi “sekularisme” dalam seni.
Pita Maha mengajak para pelukis Bali untuk memandang kehidupan sehari-hari—seperti menganyam bebanten, mandi di sungai, memetik padi, menari, ngayah atau bergotong royong—sebagai objek lukisan yang sah.
Pada bagian lain, warna-warna yang ditampilkan juga boleh merespons alam tropis Bali yang memancarkan kecerahan.
Dengan spirit yang tetap menjunjung adat dan tradisi Bali, lukisan-lukisan berwajah baru pun tercipta. Pameran Pita Maha yang dilakukan pada Maret 1936 menegaskan evolusi yang revolutif dalam jagat seni lukis Bali.
Dari sini, pada hari-hari kemudian, muncul pelukis-pelukis piawai yang namanya selalu dikenang.
Di antaranya Ida Bagus Made Poleng, Ida Bagus Nadera, Anak Agung Gde Sobrat, Ida Bagus Made Wija, I Gusti Ketut Kobot, I Ketut Regig, I Wayan Taweng, I Dewa Ketut Rungun, I Gusti Made Deblog dari Banjar Taensiat, Denpasar, dan Ida Bagus Made Togog.
Lukisan Bali ala Pita Maha terus memikat. Pada pameran di Paris pada 1937, lukisan Ida Bagus Gelgel dari Kamasan dan Ida Bagus Kembeng dari Ubud mendapat medali perak serta Diplôme de Médaille d’Argent.
Nama-nama pelukis Pita Maha dan turunannya yang tersebut di atas kuat bertahan dalam setiap pembicaraan tentang jagat seni lukis Bali hingga 90 tahun kemudian.
Bahkan, karya sejumlah pelukis menjadi idaman di pasar seni sehingga menembus biro lelang internasional.
Selain nama besar para pelukisnya, apa yang diwariskan Pita Maha kepada generasi seni lukis seluruh Bali selanjutnya?
Tentulah visi dan spirit Pita Maha.
Beberapa visi dan spirit Pita Maha yang terpenting adalah, pertama, pelukis harus menjadi dirinya sendiri. Kedua, dunia seni lukis seharusnya memiliki komunitas. Ketiga, sebuah komunitas harus memiliki guru agar para pelukis mempunyai arah untuk menemukan dan memasuki dirinya sendiri.
Maka, sesuai dengan ajaran Pita Maha, ribuan pelukis lantas mengeksplorasi diri melalui aneka komunitas yang tersebar di berbagai daerah.
Mereka menjadi murid dari guru yang berusaha menjadi dirinya sendiri, sekaligus menjadi pelukis yang ingin berbeda dari gurunya.
Jasa besar lain dari Pita Maha adalah upaya Rudolf Bonnet dan Tjokorda Gde Agung Sukawati mendirikan Museum Puri Lukisan Ratna Warta di Ubud, yang diresmikan pada 1956.
Di sini, ratusan lukisan dan patung karya seniman Pita Maha yang menakjubkan dipajang untuk masyarakat dunia.
(Agus Dermawan T., penyusun buku Bali Bravo – Leksikon Pelukis Tradisional Bali 200 Tahun, penerima Anugerah Kebudayaan RI 2026, Kompas, 7/8–2/2026)
Selamat beraktivitas, para sahabat dan pembaca budiman. Salam sehat dan rahayu.