Oleh : IBG Dharma Putra
Pagi ini, berteman singkong dikukus, gorengan sepat kering baru berumur dua harian disertai secangkir kopi pahit, menerima berita gembira dari seorang karib sangat akrab yang tinggal di Pulau Dewata. Bagus Darmayasa, teman yang mengagumkan dan karena kiprahnya, mampu menginspirasi cinta, peduli dan ketegasan pada benak tua ini.
Cinta abadi tidak lahir dari ungkapan ungkapan besar, tapi dari rasa peduli, yang setia merawat hal kecil, perhatian pada masalah remeh temeh yang luput dari pandangan, memahami situasi tanpa banyak diminta, menjaga komunikasi saat keadaan sedang tidak baik-baik saja, bertindak sebelum keluhan berubah jadi luka, memberikan ruang nyaman bagi yang lelah, berbagi secara adil tanpa menghitung untung rugi, memaafkan kesalahan yang bahkan tinggalkan bekas paling dalam.
Kepedulian tak pernah sibuk pamer diri, seperti akar pohon yang bekerja di dalam gelap supaya dedaunan tetap hijau menikmati cahaya. Peduli susah dicari dan di kepedulian itulah cinta akan menemukan bentuknya yang paling jujur, tidak sekadar menghangatkan, tetapi juga menjaga, jauh dari hanya menerima ataupun menerima dan memberi tapi hanya memberi dan memberi.
Kepedulian cinta yang menjaga sering menuntut keberanian untuk bersikap tegas sehingga tidak jarang, menimbulkan kesalahpahaman, sebagai resek dan keterlaluan, padahal tidak sedikit dari ketegasan sikap itu, terlahir dari rasa kasih yang tidak ingin membiarkan orang yang dicintainya tersesat dalam kelembutan yang keliru.
Barangkali karena itu, kata tegas terasa begitu dekat dengan tega. Bedanya hanya satu huruf, huruf s, tetapi huruf itu seakan menjadi lambang sayang penuh kasih, yang bisa mengubah tega, menjadi keberanian mencintai penuh tanggung jawab. Tegas tanpa cinta melahirkan ketakutan, cinta tanpa tegas, kehilangan kemampuannya melindungi.
Ketegasan karena kepedulian cinta bak sungai yang tetap lembut mengalir berbatas mengikuti tebing agar mampu menuju muara dengan cara yang tepat dan benar. Kepedulian adalah aliran yang menghidupkan, sedang ketegasan adalah tebing yang menjaga arah. Keduanya tak saling meniadakan tetapi saling menyempurnakan. Air mengalir tanpa tepi adalah banjir dan tepi tanpa aliran air menjadi lahan kering meretak tak ada gunanya.
Karenanya, tak perlu takut pada ketegasan dari hati yang peduli. Bolehlah ditafsirkan marah nan asli dari dalam nurani, keras yang tidak berniat melukai, hanya menginginkan tidak keliru serta kembali benar. Ingatlah bahwa cinta itu, dapat berbentuk pelukan mesra tapi sesekali memilih menjadi pagar agar yang disayang tak terjatuh ke jurang.
Di balik sikap yang tampak kukuh, tersembunyi doa tidak terucap, gelisah tidak dipertontonkan, dan harapan agar kebahagiaan orang tercinta tetap terjaga. Begitu indah ketegasan karena kepedulian cinta yang sering terlambat disadari dan timbulkan sesal sepanjang hidup manusia.
Sadarlah bahwa bahagia itu, tak hanya karena temukan orang yang selalu menyenangkan hati, tetapi orang peduli dan tetap hadir, berani untuk berkata benar, dan tidak membiarkan kasihnya ke jalan derita.
Ketika cinta, kepedulian dan ketegasan berjalan seiring, hubungan tak hanya bertahan semusim tetapi bertumbuh seperti pohonan yang akarnya saling menggenggam dalam tanah agar dahan bisa terus menggapai cahaya, pohonan rindang dan memunculkan bunga dan buah ranum nya. Buah itu adalah bahagia yang tak perlu dikejar lagi karena akan datang sendiri dari cinta yang dirawat peduli dan dijaga ketegasan.
Banjarmasin
18072926