RENUNGAN PERISTIWA HARI PROKLAMASI

Oleh: I Wayan Sugitha

Tanggal 17 Agustus 2026, Republik Indonesia genap berusia 81 tahun. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, penuh dinamika, serta mengalami pasang surut.

Hari Proklamasi menjadi momentum untuk bersyukur sekaligus berefleksi. Renungan ini untuk menguatkan tekad dan kerja keras dalam mewujudkan negeri yang sejahtera dan berkeadilan sosial bagi seluruh masyarakat.

Bagaimana sejarah Proklamasi sebagai sebuah peristiwa, dan bagaimana Bendera Merah Putih berkibar di tiang bambu sebagai simbol kedaulatan Indonesia? Mari kita ikuti uraian dalam tulisan di bawah ini.

Berawal dari Jepang Menyerah

Pada 6 Agustus 1945, pesawat pengebom Amerika Serikat, Enola Gay, menjatuhkan bom atom yang diberi nama Little Boy di Hiroshima. Bom tersebut menewaskan dan melukai ratusan ribu warga Hiroshima.

Pada 9 Agustus 1945, atau tiga hari setelah Hiroshima luluh lantak, Amerika Serikat kembali menjatuhkan bom atom di Kota Nagasaki. Korban tewas di kota ini diperkirakan mencapai sekitar 74.000 orang.

Kedua bom atom tersebut dijatuhkan Amerika Serikat dalam konteks Perang Pasifik antara Jepang dan Pasukan Sekutu, setelah sebelumnya Jepang menyerang Pearl Harbor.

Saat Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat, Jepang berada di bawah kepemimpinan Kaisar Hirohito. Akhirnya, untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak, pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.

Selanjutnya, pada 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito menyampaikan pidato melalui radio yang dikenal sebagai Gyokuon-hōsō, yang mengumumkan kepada rakyat Jepang bahwa Jepang telah menyerah.

Akibat menyerahnya Jepang kepada Sekutu, di Indonesia yang saat itu masih berada di bawah pendudukan Jepang terjadi perbedaan pendapat antara kelompok muda dan kelompok tua dalam menentukan waktu dan pelaksanaan kemerdekaan. Kelompok muda menginginkan Proklamasi segera dilakukan menyusul kekalahan Jepang oleh Sekutu.

Pada 15 Agustus 1945, kelompok muda mengadakan rapat di Jalan Cikini 71, Jakarta, di bawah pimpinan Chaerul Saleh. Yusuf Kunto dan Wikana turut menjadi perwakilan kelompok muda.

Pada 16 Agustus 1945 sekitar pukul 03.00 dini hari, kelompok muda membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Sementara itu, Ahmad Soebardjo yang merupakan salah satu tokoh penting dalam PPKI kemudian datang ke Rengasdengklok dan memberikan jaminan bahwa Proklamasi akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 sebelum pukul 12.00 siang.

Setelah melalui berbagai peristiwa dan perundingan, akhirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Bendera Merah Putih kemudian berkibar sebagai simbol kemerdekaan bangsa Indonesia.

Bendera Merah Putih di Tiang Bambu

Bendera Pusaka yang dijahit oleh Fatmawati, istri Soekarno, dikibarkan untuk pertama kalinya setelah pembacaan Naskah Proklamasi. Pengibaran tersebut dilakukan oleh Latief Hendraningrat dan Suhud, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Bendera Pusaka menjadi salah satu simbol penting kedaulatan Indonesia sebagai negara merdeka. Tiang bambu yang digunakan untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih juga menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa yang sarat makna.

Perlu dipahami oleh para pembaca budiman bahwa setelah Proklamasi disampaikan oleh Soekarno dan Hatta, desingan peluru dan dentuman meriam belum berhenti. Peperangan melawan Belanda masih berlangsung selama beberapa tahun setelah Proklamasi.

Namun, berkat perjuangan rakyat di bawah kepemimpinan Soekarno dan Hatta serta para pejuang bangsa yang telah gugur sebagai pahlawan, kita dapat menikmati kemerdekaan hingga hari ini.

(Sumber: Jawa Pos, 16 Agustus 2016; Kompas, 7 Agustus 2023; Kompas, 8 Agustus 2025.)

Dirgahayu Republik Indonesia.
17 Agustus 2026.

Selamat beraktivitas. Salam sehat dan rahayu untuk para pembaca budiman, semua sahabat, dan kita semua.

Scroll to Top