Oleh: I Wayan Sugitha
Bagaimana jika kejujuran, kebohongan, dan kebenaran disandingkan dalam sebuah diskusi?
Memilih menjadi orang jujur dalam pergaulan hidup memang tidak selalu membuat kita disukai. Terkadang, kejujuran justru membuat seseorang kehilangan orang lain, kesempatan, bahkan dianggap terlalu polos.
Sementara itu, kebohongan dan pembohong merupakan bagian dari kehidupan manusia. Kebohongan adalah lawan dari kebenaran. Namun, kebohongan memiliki batas waktu.
Berbeda dengan kejujuran. Orang yang jujur tidak perlu mengingat cerita yang dibuat-buat untuk menutupi kebohongannya.
Kejujuran mungkin kalah untuk sementara. Namun, mesti dipahami bahwa orang yang hidup dari kebohongan pada akhirnya sedang menghitung mundur kehancurannya sendiri. (Dilla Afrina)
Kebenaran adalah dimensi hati. Ia menjadi milik banyak orang, telah ada sejak awal, dan merupakan lawan dari kesalahan serta kebohongan.
Kebenaran sering kali terlihat kalah, bukan karena kebenaran itu lemah, melainkan karena suara yang lebih keras mampu mengalahkan suara nurani.
Mereka yang jujur terkadang harus menelan kekecewaan ketika kebohongan dihias sedemikian rupa hingga terlihat seperti kebenaran.
Memang, uang atau harta dapat membeli banyak hal, tetapi tidak pernah mampu membeli ketenangan hati. Ketika uang berbicara, kebenaran pun terdiam. (Aristoteles)
Sahabat sejati kebenaran adalah waktu. Kebenaran tidak dapat dibunuh. Waktu akan membuka tabir yang selama ini tertutup, dan pada akhirnya kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Sebab, sesuatu yang bohong, palsu, dan tidak jujur hanya mampu bertahan sementara. Sementara kebenaran akan tetap hidup, meskipun untuk waktu yang lama terabaikan. (Amir Selow)
Kebenaran juga bersifat sebagai sebuah kualitas yang mengantarkan manusia sebagai hamba-hamba-Nya menuju keselamatan.
Selamat beraktivitas. Salam sehat dan Rahayu untuk para sahabat dan pembaca budiman.