Oleh: I Wayan Sugitha
Istilah thrivers diperkenalkan oleh psikolog pendidikan Michele Borba melalui bukunya, Thrivers: The Surprising Reasons Why Some Kids Struggle and Others Shine.
Istilah thrivers menunjuk pada anak-anak yang tidak hanya mampu bertahan dalam tekanan, tetapi juga berkembang menjadi pribadi yang utuh, sehat secara emosional, dan memiliki arah hidup yang bermakna.
Mereka tidak hanya pintar di atas kertas, tetapi juga kuat secara jiwa. Para thrivers hidup untuk memahami, tumbuh, dan memberi makna sejak usia sedini mungkin.
Ibarat dua murid. Yang satu mendapat nilai sempurna, mengikuti lomba akademik, aktif dalam organisasi, tetapi sering sakit kepala, sulit tidur, dan mengalami kecemasan berlebihan.
Sementara anak yang lain mungkin tidak menonjol secara akademis, tetapi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, membantu teman yang tertinggal pelajaran tanpa disuruh, dan tetap tenang meskipun nilainya turun.
Keduanya sama-sama aktif, tetapi hanya satu yang benar-benar thrive. Karakter thrivers tidak selalu tampak di rapor, tetapi sangat penting bagi masa depan.
Mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, penuh empati, memiliki rasa ingin tahu, mampu mengontrol diri, berintegritas, tekun, dan optimistis.
Semua itu bukan bakat yang dibawa sejak lahir, melainkan hasil dari pola asuh dan lingkungan yang membentuk. Anak yang percaya diri tidak takut mencoba hal baru, meskipun belum tentu berhasil.
Anak yang memiliki empati peka terhadap perasaan temannya sehingga lebih peduli. Anak yang mampu mengatur emosinya tidak langsung marah ketika ditolak atau mengalami kekalahan.
Anak yang memiliki integritas mencintai kebenaran, berani mengatakan bahwa sesuatu itu salah ketika memang tidak benar, serta berani berbeda dengan kelompoknya.
Sementara anak yang optimistis tetap mampu melihat harapan meskipun berada dalam keadaan sulit.
Menumbuhkan anak thrivers tidak membutuhkan metode pendidikan yang rumit ataupun sistem hadiah dan hukuman yang kaku.
Semuanya dapat dilakukan mulai dari hal-hal sederhana: mendengarkan ceritanya tanpa menyela, memuji usahanya, bukan hanya hasilnya.
Memberi ruang untuk bertanya tanpa takut dianggap bodoh. Tidak menuntut hasil secara berlebihan dan mendorong keberanian untuk mencoba lagi.
Saat berselisih, kita ajak anak melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Kita tanamkan empati. Saat kecewa, kita bantu memahami apa sumber kekecewaannya.
Di situlah kekuatan akar bertumbuh agar mereka tidak tumbang ketika diterjang badai.
Malala Yousafzai, penerima Nobel Perdamaian atas perjuangannya menuntut hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan, merupakan salah satu contoh sosok thrivers.
Di Indonesia, kita mengenal Butet Manurung dengan sekolah rimbanya yang berfokus pada pendidikan serta menghormati budaya dan kearifan lokal.
Sementara itu, new collar workers adalah istilah yang dipopulerkan oleh Ginni Rometty, mantan CEO IBM. Istilah ini mengacu pada jenis talenta baru yang tidak selalu berasal dari pendidikan perguruan tinggi selama empat tahun, tetapi dapat ditempa melalui bootcamp, pelatihan keterampilan teknologi, atau jalur nontradisional lainnya.
Mereka bukan pekerja kerah putih ataupun kerah biru, melainkan pembelajar tangguh, adaptif, kuat di lapangan, dan siap tumbuh bersama perkembangan teknologi.
Mereka inilah yang mulai menjadi andalan di banyak organisasi. Kita perlu menciptakan ruang bagi siapa pun yang memiliki keinginan untuk belajar.
Kita memang tidak tahu pasti teknologi apa yang akan berkembang pada masa mendatang. Namun, kita tahu satu hal: selama hidup, kita terus belajar, saling membangun, dan akhirnya kembali ke kampung Tuhan.
(Kompas, 2-8-2025; Kompas, 23-8-2025)
Selamat beraktivitas. Salam sehat, para sahabat senior, yunior, dan rahayu untuk semua.