Oleh: I Wayan Sugitha
Ada tiga cara yang bisa kita tempuh untuk belajar kearifan hidup. Pertama, lewat permenungan; itulah cara yang paling terpuji. Kedua, lewat pengalaman; itulah cara yang paling menyakitkan. Ketiga, dengan menirukan; itulah cara yang paling mudah.
(Confucius)
Alam dan beberapa organ tubuh manusia sebagai ciptaan-Nya selalu memberikan pelajaran tanpa harus berbicara.
Jadilah seperti udara. Tidak tampak, tetapi selalu menyertai kehidupan.
Jadilah seperti angin. Tidak terlihat, tetapi mampu menggerakkan. Tidak selalu menampakkan diri, tetapi selalu ada, memberikan kesejukan dan keadilan kepada semua pihak.
Memberikan manfaat tanpa harus menjadi yang paling terlihat.
(Nasroh Baelaah)
Jadilah seperti jantung. Tidak menampakkan diri, tetapi selalu memberikan denyut kehidupan.
Jadilah ibarat matahari. Tidak dapat disentuh, tetapi selalu menerangi.
Begitu juga dengan napas dan siapa yang berada di baliknya.
Semuanya mengajarkan dan mengandung nilai-nilai kerendahan hati, keikhlasan, serta kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih.
Jadi, kita dapat belajar dari alam untuk meraih kearifan hidup dengan menirukan ajaran yang tercermin dari udara, angin, matahari, jantung, dan napas manusia sebagai ciptaan-Nya.
(Dr. Izzo, Ph.D., “Temukan Lima Rahasia Sebelum Mati”)
Selamat beraktivitas. Salam sehat untuk semua sahabat senior, junior, dan pembaca budiman. Rahayu untuk kita semua.