MEMILIH MENGHUKUM DIRI SENDIRI

Oleh: I Wayan Sugitha

Dr. Arun Gandhi adalah cucu Mahatma Gandhi. Ia pernah bercerita bahwa ketika masih kecil, dirinya pernah berbohong kepada sang ayah.

Saat itu, Arun terlambat menjemput ayahnya dengan alasan mobilnya belum selesai diperbaiki. Padahal, sebenarnya mobil tersebut sudah selesai diperbaiki. Hanya saja, Arun terlalu asyik menonton film di bioskop sehingga lupa dengan janjinya untuk menjemput sang ayah.

Tanpa sepengetahuan Arun, sang ayah ternyata sudah menelepon pihak bengkel terlebih dahulu. Dari situlah sang ayah mengetahui bahwa anaknya telah berbohong.

Bohong, kebohongan, dan pembohong merupakan bagian dari kehidupan. Di dunia ini memang ada orang yang tidak mencuri dan tidak membunuh. Namun, rasanya tidak ada manusia yang sama sekali tidak pernah berbohong.

Mengutip frasa Jean-Paul, seorang novelis dan esais, kebohongan adalah kanker ganas di hati manusia yang paling dalam. Dr. Arun Gandhi menyadari bahwa kebohongan merupakan upaya untuk melawan kebenaran secara sadar.

Ketika bertemu dengan anaknya, sang ayah berkata:

“Arun, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah yang mendidik dan mendewasakan kamu, sehingga kamu tidak punya keberanian untuk berbicara jujur kepada ayah.

Untuk menghukum kesalahan ayah inilah, ayah pulang dengan berjalan kaki sambil eling, merenungkan di mana letak kesalahan ayah.”

Arun mengaku sangat menyesali perbuatannya. Sejak saat itu, ia berjanji dan mengikat dirinya untuk selalu berkata jujur kepada siapa pun.

Tindakan sang ayah yang memilih menghukum dirinya sendiri daripada menghukum anaknya, diakui Arun, justru memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah dirinya.

Begitulah seorang ayah sebagai guru rupaka yang mengerti akan perannya. Alih-alih menyalahkan anaknya, ia justru mencari tahu apa yang salah dalam cara dirinya mendidik.

Kisah di atas juga memberikan pelajaran bahwa kekuatan introspeksi diri dan keberanian untuk menyalahkan diri sendiri, bukan orang lain, dapat memberikan dampak positif yang besar bagi orang lain.

Singkat kata, sang ayah mengajarkan kepada Arun tentang “budaya tuding”.

Dengan menggunakan telunjuk tangan kanan, kita mudah menuding orang lain sebagai pihak yang salah. Padahal, ada tiga jari lainnya yang menunjuk kepada diri kita sendiri.

(Taufiq Effendi, PERAN)

Selama beraktivitas, salam sehat untuk para sahabat dan pembaca budiman. Rahayu untuk semua.

Scroll to Top