Oleh: IBG Dharma Putra
Di masa lalu jika bulan Agustus berlalu, selalu berarti kelu karena harus kembali tak bertemu, kembali dipisahkan ombak samudra membiru, sekaligus berarti seminggu liburan seru, ikutan berlalu bersama haru yang tersisa dalam kalbu karena wajib kembali ke perjuangan penuh deru berdebu. Pohonan merimbun karena tumbuhnya daun daun rindu menunggu sua untuk hilangnya hati nan kelabu.
Kenangan itu, kembali menggebu di kesenduan pagi akhir bulan Agustus, menyeruak kelu penuh haru bersama guyonan konyol dan kalimat aneh dengan kejutan kata, nama sahabat, tetangga atau saudara yang memang dibuat lucu, yang silih berganti saling diucapkan agar membuat si pendengar tertawa, pemenangnya tentu yang mampu membuat tertawa paling banyak.
Kenangan itu tak pernah hilang bahkan setelah salah satu pelakunya telah di kremasi di dalam upacara Ngaben, persembahan terakhir pada anggota keluarga yang telah meninggal dunia yang berarti mengembalikan kehidupan pada sumbernya. Apapun artinya secara spiritual, bagi cinta kasih, bermakna yang hilang dalam api, akan ditemukan dalam abu.
Barangkali begitulah cara waktu untuk memberi pelajaran tentang kehilangan, tidak benar benar menghapus tetapi memindahkan kehadiran dari ruang yang dapat disentuh kedalam ruang yang hanya dapat dirasakan Tubuhnya boleh kembali pulang pada hening, namanya perlahan menjadi kenangan tapi kasih sayang punya jalan sendiri untuk tetap abadi.
Kasih itu, tertinggal dalam tawa yang spontan teringat, dalam kalimat konyol yang masih bisa membuat hati tersenyum, dalam rindu yang tiba tiba datang tanpa diundang ataupun dalam doa yang diam diam mengalir ketika pagi menyentuh penghujung Agustus. Kasih seorang kakak bagi adiknya yang bandel dalam penilaian orang lain tetapi lucu dalam penilaiannya.
Seorang adik lelaki yang pernah hadir sebagai teman bercanda, teman pulang, teman berbagi cerita, juga teman berdialog disertai perdebatan seru yang tanpa dikira, meninggalkan pelajaran sederhana, bahwa kedekatan tidak ditentukan oleh seringnya bertemu tetapi oleh ketulusan. Kedekatan tulus itu, meninggalkan jejak kasih di dalam hati.
Setiap Agustus berlalu, yang tersisa, tak hanya kesedihan karena pertemuan telah berakhir tapi kesadaran bahwa hidup hanya sementara serta nyawa hanya dipinjamkan sebentar saja. Karena itu, jangan pelit menyampaikan sayang, jangan tunggu kehilangan untuk ucapkan rindumu, dan jangan mengira orang yang dicintai akan selalu memiliki kesempatan untuk mendengar kalimat sederhana yang sangat berarti itu.
Sadarlah bahwa yang dibawa melewati waktu, pulang ke rumah abadi, rumah atas langit yang tidak terpengaruh ruang dan waktu, bukanlah banyaknya harta, panjangnya perjalanan, atau kemenangan atas kehidupan tetapi kenangan tentang jejak kasih yang pernah ada bersama di kehidupan. Kenangan abadi itu, tidak terhapus oleh zaman.
Seperti kenangan Agustus berlalu, daun rindu takut kembali layu meninggalkan kenangan dan pesan lembut kehidupan berbunyi, sayangilah semasih ada waktu dan tertawalah mumpung masih hidup, jangan biarkan kasih menjadi kata yang terlambat diucapkan.
Banjarmasin
29082026