RUWAIBIDLAH DAN ELING DI ZAMAN EDAN

Oleh: I Wayan Sugitha

Rasulullah Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, akan ada zaman penuh kebohongan ketika orang-orang yang berbohong justru dipercaya, sedangkan orang yang jujur dan terbuka dianggap sebagai pembohong.

Pengkhianat ala Brutus di zaman Romawi, yang ikut menancapkan belati dan membunuh Julius Caesar, dianggap setia. Sebaliknya, orang yang setia dianggap sebagai pengkhianat. Dalam pandangan yang disebut dalam sabda Nabi Muhammad SAW, kondisi semacam ini disebut “Ruwaibidlah”.

Ruwaibidlah menggambarkan orang bodoh yang suka berkomentar mengenai urusan-urusan rakyat, menebarkan kebohongan, atau yang di zaman sekarang disebut sebagai berita hoaks. Mereka mabuk dalam teriakan-teriakan, mencaci maki sesama, bahkan merampas hak-hak rakyat yang telah memilih dan memberikan suaranya.

Selain itu, ada sabda Nabi Muhammad SAW yang mengatakan:

“Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan hatimu dan engkau tidak suka jika diketahui orang lain.”

Dalam pengertian ini, dosa melampaui sekadar pelanggaran hukum (syariat) sebagai imperatif yang berada di luar diri. Di sini, dua wajah dosa menyapa kesadaran manusia: rasa bersalah yang bersinar dari lentera moral dalam diri dan rasa malu yang bergema dari tatapan orang lain.

Jika disadari, ada tiga hal yang dapat menjadi sumber bencana, yakni kebohongan, keserakahan, dan hilangnya rasa malu. Ketiganya dapat membuat alam raya seolah tidak lagi bersahabat dengan kita.

Kebohongan, keserakahan, dan ketidakmampuan untuk merasa malu, sebagai “tamu-tamu” kehidupan, akan membuat manusia buta dan lupa.

Jika kebohongan, keserakahan, dan hilangnya rasa malu menyatu dalam diri seorang pemimpin, maka pemimpin tersebut akan sesat dan menyesatkan.

Dia tampil dengan citra palsu, merasa serba bisa dan paling benar dalam setiap ucapan maupun langkah. Apa pun nasihat dan kritik yang disampaikan seolah tidak berguna.

Karena apa?

Karena semakin tinggi pikiran dan hatinya menghargai kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran, semakin rendahlah penghargaan terhadap harkat kehidupan, kebenaran, keadilan, kesusilaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Situasi zaman ini seperti memenuhi bayangan gelap bait-bait puisi Serat Kalatida (puisi zaman keraguan), karya pujangga agung Keraton Surakarta, R. Ng. Ranggawarsita.

Menghadapi zaman edan, sulit menggunakan budi pekerti. Ikut edan aku tak sanggup. Jika tidak ikut edan, tidak akan kebagian. Mungkin pada akhirnya akan jatuh miskin.

Namun, karena kehendak Allah, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.

Dalam puisi di atas tergambarkan bahwa jika ikut arus “kegilaan” dengan membunuh rasa bersalah dan rasa malu, hati nurani sebagai tempat bersemayamnya kebenaran akan terganggu. Akan tetapi, jika tidak ikut arus tersebut, kita bisa tertinggal atau kehilangan kesempatan.

Namun, kendati mereka yang larut dalam “keedanan” mungkin tampak beruntung, sejatinya orang yang tetap eling (sadar budi) dan waspada (mampu mengendalikan diri) justru akan lebih selamat dan beruntung pada akhirnya.

Singkat kata, pemimpin yang pembohong, serakah, dan tidak punya rasa malu, yang larut dalam keedanan dan memilih jalan kesenangan, tidak akan beruntung dan tidak akan selamat.

Sebaliknya, pemimpin yang eling, tidak berbohong, tidak serakah, dan memiliki rasa malu sebagai penjaga diri, akan lebih beruntung dan selamat di akhir kepemimpinannya.

(Kompas, 4 Maret 2025)

Selamat beraktivitas. Salam sehat dan rahayu untuk Anda dan kita semua.

Scroll to Top