Oleh: I Wayan Sugitha
Banyak definisi tentang pendidikan. Ada yang mengatakan bahwa pendidikan bukan sekadar wahana transmisi ilmu, melainkan sarana untuk membeningkan mata batin serta membentuk karakter individu yang bermoral, amanah, dan bertanggung jawab.
Mengutip George R. Knight, pendidikan harus mengajarkan etika, nilai-nilai, dan perilaku moral dengan tujuan menjelaskan tindakan yang seharusnya dilakukan manusia dalam membawa kebaikan bagi masyarakat.
Secara filosofis, pendidikan adalah dialog antara pikiran yang mengajar dan pikiran yang belajar.
Semakin terbuka kedua pihak untuk saling memahami, semakin besar peluang ilmu pengetahuan berkembang dengan baik.
Belajar bukan hanya tentang mendengarkan penjelasan, tetapi juga memperhatikan, memahami, bertanya, serta menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
Proses ini memerlukan kerja sama yang baik antara pendidik dan peserta didik.
Sebagai pengingat, mencari “kemenangan” dalam perdebatan bukan berarti menemukan “kebenaran”.
Kebenaran sejati membuahkan kebijaksanaan. Orang yang benar-benar bijaksana tidak merasa paling benar.
Ia tetap rendah hati, mau mendengar, dan menghormati orang lain meskipun berbeda pendapat.
Pangkal segala pendidikan karakter adalah cinta pada kebenaran dan keberanian mengatakan salah terhadap sesuatu yang tidak benar.
Mari kita lebih banyak bercermin daripada menunjuk. Sebab, kesombongan intelektual sering kali menjadi penghalang terbesar untuk menemukan kebenaran.
Ilmu akan menghiasi akalmu, tetapi adab akan menghiasi seluruh kehidupanmu.
Maka, jika dapat memilih, dahulukan memperbaiki akhlak sebelum merasa bangga dengan banyaknya ilmu.
Sebab, ilmu tanpa adab lebih mudah membawa kesombongan.
(Sayidina Ali bin Abi Thalib)
Ilmu tanpa nalar adalah “kebodohan”. Nalar tanpa ilmu adalah “kesesatan”.
Kebenaran adalah dimensi hati, milik banyak orang, dan bersifat kualitas. Kebenaran menuntun manusia menuju keselamatan.
Selamat beraktivitas. Salam sehat untuk para sahabat, para pembaca budiman, dan Rahayu.