HIRARKI CICERO

Oleh : IBG Dharma Putra

Sejak dahulu kala, orang kaya selalu berkuasa terhadap orang miskin sehingga jika sekarang ini, dominasi si kaya terhadap si miskin, yang dimasalahkan dan disimpulkan sebagai biang kerok kekacauan pemerintahan, rasa maupun logikanya kurang tepat.

Bahkan Marcus Tullius Cicero membuat hirarki yang lebih lengkap, menempatkan orang miskin di urutan terbawah, selanjutnya berturut turut di isi orang kaya, tentara, pembayar pajak, bankir, pengacara, begundal serta politisi, menempati puncaknya. Menjadi masuk akal, menempatkan politisi sebagai biang kerok keruwetan di suatu negara.

Artinya kekuasaan orang kaya terhadap yang miskin sudah terjadi 106 tahun sebelum Masehi, pada berbagai era mulai dari yang sangat buruk sampai sangat baik dan sekaligus berarti orang kaya dengan keberadaannya bukan biang kerok kekacauan bangsa dan negara.

Saat inipun, terasakan orang kaya masih takut dengan polisi atau tentara serta jika membuat tinggal ditangkap saja. Terasa masuk akal juga jika tentara oleh Cicero, diberi strata yang lebih rendah dari pembayar pajak, bankir, pengacara dan begundal serta politisi, walaupun tak terasa di keseharian saat ini.

Yang terasakan adalah begitu besarnya peran politisi dalam menimbulkan kekacauan melalui pembuatan ketentuan yang tak masuk akal dan tidak sesuai amanah kesejahteraan bersama. Kemungkinan karena si politisi juga merupakan orang kaya, pembayar pajak dan begundal. Jadi kaya, berkuasa dan bertindak gila gilaan.

Hirarki Cicero, telah dikuasai oleh politisi secara mutlak dan tidak mungkin dibenahi oleh profesi yang ada di dalam hirarki, karena keseluruhan berada di bawah kuasa politisi. Pembenahan dan pemulihan situasi bangsa dan negara dari keruwetan, sangat bergantung dari profesi yang tak tercatat dalam hirarki Cicero, yaitu cendekia dan tokoh agama.

Situasi kini, harus dibaca supaya pembenahan situasi bangsa dan negara, bisa terjadi karena fenomena politisi ngomong hanya untuk dipilih masih terjadi, mengaburkan fakta dengan fiksi sehingga sangat diperlukan bukti dalam bentuk kebenaran.

Politisi bak singa, berkampanye di depan para domba, untuk dipilih dengan menjanjikan akan menjadi vegetarian setelah terpilih nanti. Domba bingung seperti masyarakat yang bingung serta tidak mudah membedakan kebenaran dengan pembenaran. Disinilah peran cendekiawan serta tokoh agama.

Mereka tidak boleh terlarut dalam kuasa politisi hirarki Cicero, karena memang tak ada di hirarki itu. Jangan terjebak atau sengaja menjebak diri demi kepentingan tertentu, bisa diduga karena kepentingan uang dan kekuasaan. Sadarlah pada martabat mulia yang dimilikinya.

Mereka secara tersurat dan eksplisit tidak ada dalam hirarki, mungkin karena Cicero segan dan hormat pada mereka. Begitu tingginya martabat mereka sampai pemikir se tingkat Cicero, yang merupakan orator, filsuf, pengacara dan konsul Romawi, menghormatinya. Konsul adalah dua pejabat politik tertinggi di Romawi, yang dapat saling veto untuk hindari kekuasaan mutlak.

Jika benar seperti itu, berarti cendekiawan dan tokoh agama ditempatkannya sebagai penjaga nurani, yang mengawasi hirarki berjalan sesuai amanah kemanusiaan. Bersikap, berkata serta bertindak yang membuat kebenaran berbeda dengan pembenaran sehingga fiksi amat mudah dibedakan dengan fakta.

Jika Cicero tak memasukkan cendekiawan dan tokoh agama dalam hirarkinya tak karena rasa hormat, berarti sebaliknya. Cendekiawan atau tokoh agama dianggap bukan penjaga nurani, tapi pembuat nurani berkabut, remeh, mudah ditakut takuti, mudah dipengaruhi serta diseret dalam kepentingan.

Pembuat nurani berkabut, tidak bersikap kritis dan independen tetapi menghamba serta tidak menjaga jarak dengan kekuasaan. Memberikan legitimasi dan pembenaran pada semua tindak tanduk politisi sehingga politisi semakin menjadi jadi ngomong ngawur, bersikap konyol sontoloyo dan zalim.

Dimanakah posisi cendekia serta tokoh agama dalam hirarki Cicero, ditempat independen yang mulia atau di tempatkan di remeh kepentingan. Jawabannya terhadap misteri ini, perlu segera ditemukan supaya keruwetan bangsa mampu dicarikan solusinya. Mari dijawab bersama dan tidak menunggu Cicero hidup lagi.

Banjarmasin
04092026

Scroll to Top