Oleh : IBG Dharma Putra
Terasa lebih mudah mencintai ketidakpedulian yang diam dibanding mencintai kepedulian yang selalu datang dengan wajah garang, ketus serta dipenuhi kemarahan. Perasaan terasakan benar sekaligus dapat dinamakan rasa tidak berlogika karena salah baca bahasa cinta karena mengira ketenangan selalu berarti kasih dan kemarahan selalu berarti kebencian.
Mabuk perasaan seperti ini disebabkan karena sisi kemanusiaan cenderung merasa nyaman jika tidak dituntut, tak dihakimi dan tidak dibuat terus menerus menjaga hati sehingga terlarut, terlena dan terlupa oleh ketidakpedulian yang sunyi dengan gigil dingin tanpa berselimut indah kehangatan serta kasih sayang.
Menjadi semakin keblinger saat kepedulian tiba bersamaan dengan murka seperti hujan dengan petir, airnya dibutuhkan tapi petirnya membuat ingin segera berlindung. Keblinger sebab terlupa bahwa kepedulian serta cara penyampaiannya adalah dua hal yang berbeda. Terlupa kepada kasih sayang yang melekat di kepedulian saking takutnya pada cara salah penyampaiannya.
Kepedulian terkadang tidak pandai mengemas dirinya dalam kelembutan, tidak memeluk tetapi menegur, terlupa bahwa teguran berbaju marah, menyembunyikan substansi cinta di kepedulian, sekaligus terlupa bahwa cinta tak memerlukan genggaman keras tapi penjagaan yang lembut.
Tak sadar, bahwa hati tak hanya membutuhkan peduli tapi juga membutuhkan rasa aman ketika menerima kepedulian itu.
Dengan latar pengalaman tersebut, selayaknya disadari bahwa yang menyenangkan di ketidak pedulian, bukan cueknya tetapi damainya, yang dibenci pada kepedulian bukan kasihnya tetapi cara datang dan penyampaiannya. Berarti wajib dibuat cinta melindungi tanpa terasa dipenjara, karena hati ingin dikasihi tanpa rasa takut serta was was.
Was was adalah sumber kebohongan yang tak disengaja dan akan menjadi sumber berbohong yang baru sehingga semakin lama akan menjadi semakin was was. Karenanya buatlah cinta nan matang yang dewasa, tidak hanya berisi peduli tapi berisikan peduli yang membuatnya merasa dicintai.
Bukankah romantisme yang paling mesra justru ketika seseorang mampu berkata, tanpa banyak suara, berkata tanpa bicara, supaya kepedulian
tidak lagi berwajah garang tetapi sangat ramah serta akhirnya menjadi rumah, yang dirindukan, tempat dua hati bisa pulang tanpa rasa takut.
Banjarmasin
27082026