MENGGAPAI CINTA & BAHAGIA DALAM KEHIDUPAN

Oleh: I Wayan Sugitha

Adalah dua bidang kehidupan yang diharapkan setiap hamba-Nya. Dua bagian dari kehidupan dunia yang selalu diperjuangkan hingga akhir zaman.

Mencintai bukanlah bagaimana melupakan, tetapi bagaimana memaafkan. Cinta bukan apa yang kita lihat, tetapi apa yang kita rasakan.

Cinta tidak menuntut untuk mendapatkan, tetapi bagaimana berbagi. Cinta bukan bagaimana kita melepaskan, tetapi bagaimana untuk mengikhlaskan. Cinta pula membuat kita mengerti.

Kebahagiaan hidup bukan terletak pada harta dan gemerlapnya kemewahan sebagaimana diklaim oleh sebagian orang.

Ia juga tidak terletak pada tingginya jabatan atau popularitas. Kebahagiaan hidup hanya bisa Anda temukan dalam cinta.

Mengapa cinta membuat hidup bahagia? Karena cinta adalah perasaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

Dengan cinta, Tuhan menjadikan manusia saling menyayangi dan mengasihi. Dari rasa kasih dan sayang itulah hadir keharmonisan, yang kemudian mengantarkan pada kebahagiaan.

Meminjam pandangan Jalaluddin Rumi, ia mengajarkan: jika engkau mencintai sesuatu, bebaskanlah. Jika ia kembali kepadamu, itu milikmu selamanya.

Jika tidak, maka sejak awal ia bukan milikmu.

Banyak luka dalam hidup lahir bukan karena kehilangan, melainkan karena keinginan untuk memiliki. Kita sering mengira cinta adalah hak kepemilikan, padahal cinta sejatinya adalah kemampuan memberi ruang.

Ketika seseorang atau sesuatu begitu berarti bagi kita, naluri manusia mendorong kita untuk menggenggamnya erat.

Namun, semakin kuat genggaman itu, semakin besar kemungkinan kebebasan di dalamnya mati perlahan.

Mencintai bukan berarti mengurung, mengendalikan, atau memastikan segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak kita.

Mencintai adalah menerima bahwa setiap jiwa memiliki jalannya sendiri. Ada hal-hal yang bisa tumbuh karena diberi udara dan kebebasan. Seekor burung tidak membuktikan cintanya dengan tetap berada di dalam sangkar.

Ia membuktikan cintanya ketika ada kesempatan untuk terbang, tetapi tetap memilih kembali.

Di situlah cinta diuji. Bukan saat seseorang berada di sisi kita karena keadaan memaksanya, tetapi saat ia memiliki pilihan untuk pergi dan tetap memilih bertahan.

Kehadiran yang lahir dari kebebasan jauh lebih bernilai daripada kedekatan yang lahir dari keterpaksaan.

Bila sesuatu pergi dan tidak kembali, mungkin yang hilang bukan milik kita, melainkan titipan yang singgah untuk mengajarkan sebuah pelajaran.

Sebab, dalam menjalani Swadarma kehidupan, tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk kita miliki.

Ada yang hadir untuk bertumbuh, lalu pergi agar kita belajar melepaskannya dengan ikhlas.

Jadi, cinta dan bahagia bisa berjalan beriringan, walaupun mencari keduanya adalah perjalanan yang tidak pendek.

Kebahagiaan ada karena keikhlasan. Untuk bahagia, memilih tindakan saja tidak cukup. Agar bahagia, kita juga harus memilih pikiran.

Kebahagiaan ada karena kita sanggup memaafkan. Dan kebahagiaan hidup hanya bisa Anda temukan dalam cinta.

(Kahlil Gibran, Menggapai Cinta & Bahagia Bersamamu, Arvan Pradianyah, Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia)

Selamat beraktivitas. Semoga tulisan ini dapat dibaca dengan lembut dan menenangkan kegelisahan.

Salam sehat, Rahayu untuk para sahabat yunior dan senior.

Scroll to Top