Oleh: I Wayan Sugitha
Bumi dan langit ciptakan ” kehidupan” . Siang – malam ciptakan ” waktu ” .
Atas – bawah , kiri – kanan , luar – dalam ciptakan ” ruang ” Adil – tidak adil , layak – tidak layak , benar – salah , patut – tidak patut ciptakan ” ukuran , nilai dan moral ” .
Jauh – dekat , cinta – benci, perpisahan dan pertemuan timbulkan ” harmoni ” .
Dan , yang satu ada karena ketiadaan yang lain . Juga ada jadi nyata karena ” kehadiran ketiadaan ” .
Demikianlah sebaliknya dan begitulah seterusnya.
Itulah desakralisasi , rahasia yang disimpan waktu . Hidup ini sebuah perjalanan , bukan perbandingan , tentang membuka dan menutup mata .
Setiap detik adalah perjalanan dan setiap perjalanan adalah pelajaran .
Bahwa pertemuan paling indah sering berujung pada perpisahan paling sunyi .
Dari itu kita mengerti , keindahan pertemuan bukan untuk dimiliki selamanya ,melainkan untuk dirasakan , meskipun akhirnya harus dilepaskan .
Tuhan sebagai Penyaksi kehidupan ( Antaryamin ) tidak janjikan hidup ini mudah , tapi Tuhan janjikan pasti ada kemudahan hadapi dualitas dan kesulitan hidup .
Dari itu , kita harus belajar introspeksi diri . Yang harus diperbaiki dalam pergaulan hidup , adalah diri sendiri , isi hati kita , sifat buruk kita , prasangka kita , prilaku dan lisan kita .
Ketika melihat kesalahan orang lain , lihatlah diri kita , bisa jadi kesalahan kita lebih banyak dari kesalahan orang lain.
Belajar dan fahami ” budaya tuding ” , belajar menyalahkan diri sendiri , sebelum menyalahkan orang lain.
Jangan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Dan , sejatinya hanya Tuhan sebagai. Sumber Cinta dan kehidupan paling tau – siapa kita .
( Putu Wijaya , Desakralisasi Psikologi , Kompas , 23 – 11 – 2013 )
Selamat beraktifitas , salam sehat , Rahayu untuk Anda sahabat para pembaca budiman dan kita semua .
I WAYAN SUGITHA
alumni FH Unud 1981,
FH, Notariat Universitas Pajajaran, Bandung 1985.
Werda Notaris / PPAT , Denpasar , 2023 .