KETELADANAN PARA PENDIRI REPUBLIK INDONESIA

Oleh : I Wayan Sugitha

Para pendiri Republik Indonesia telah memberikan kelimpahan keteladanan kepada bangsanya termasuk politisi dan penyelenggara negara.

Para Sosok teladan

IJ Kasimo ( 1900 – 1986 ) ,Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan di zaman Orde Baru , bisa menjadi contoh .

Tokoh Partai Katolik Indonesia itu menjadikan frasa ” kesejahteraan rakyat ” tidak sebagai slogan politik , tetapi hukum yang ditaati dan dijalani dalam tugas – tugas politik .

Artinya , tugas sebagai menteri difahami IJ Kasimo sebagai jalan suci pengabdian diri atas bangsa dan negara .Bukan untuk memperkaya diri .

Integritas ,komitmen dan dedikasi juga tampak pada kejujuran Bung Hatta .
Ketika menjadi wakil presiden diera Orde Lama .

Ia pantang memanfaatan kesempatan untuk menggunakan kekuasaan dan uang negara atas kepentingan pribadi . Bahkan sekedar untuk bisa membeli sepatu Bally .

Keteladanan yang sama juga dipancarkan H Agus Salim , tokoh pahlawan nasional yang dikenal sebagai diplomat ulung , cendekiawan dan bapak pandu Indonesia .

Agus Salim dikenal punya prinsip nilai , etika dan moral yaitu Leiden is Lijden atau memimpin adalah menderita . Hal itu dibuktikan lewat kesederhanaan , pengorbanan tanpa pamrih , dan kecerdasan luar biasa .

Pada era Orde Baru , gaung keteladan masih terasa dirongga dada bangsa . Misalnya tampak pada jiwa bersih Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso .

Menjadi Kapolri tahun 1968 – 1971, Hoegeng secara konsisten menegakkan hukum ditengah gelombang pasang godaan material dan kenikmatan .

Saking jujurnya,sampai pensiun ia tidak memiliki rumah pribadi . Ia memilih menyewa rumah daripada menghuni rumah dinas dengan fasilitas mewah .

Jalan asketis ini ditempuh untuk menghindari godaan korupsi serta memastikan ia tetap memiliki rumah sendiri setelah pensiun .

Hoegeng membuktikan , polisi jujur tak hanya ada dalam dunia fantasi – imajinasi film – film India , tetapi hadir dalam.kehidupan nyata di Indonesia .

Kisah indah kejujuran yang nyaris sama juga melekat pada sosok Sutami . Menteri Pekerjaan umum ( 1965 -1978 )

Karena terlalu jujur dan bersih ia dikenal sebagai ” menteri termiskin ” diera Orde Baru .padahal, ia menangani proyek – proyek. besar seperti Gedung DPR / MPR dan waduk Jatiluhur ,tanpa sedikitpun kecipratan atau minta diciprati dana proyek layaknya pejabat korup .

Secara matrial ,ia hidup tragis : rumahnya pernah bocor dan menunggak tagihan listrik . Gajinya sebagai menteri hanya cukup menghidupi kluarga dan membiayai sekolah anak – anaknya .

Sutami adalah simbol integritas dan keteladanan sejati . Namun , secara eksistensial , ia jadi pemenang sebagai tokoh bermartabat .

Tonggak tonggak keteladan IJ Kasimo , Agus Salim , Hoegeng Imam Santoso dan Sutami bagi banyak pejabat / penyelenggara negara , tokoh tokoh ekonomi dan politik cenderung hadir sebagai pengetahuan ala kadarnya , tapi belum jadi oreantasi prilaku.

Pengetahuan hanya menjadikan orang sebatas ” tahu ” . Ilmu pengetahuan jadi bernilai ketika bergayut dengan kesadaran etik dan moral yang menuntun prilaku .

Para penyelenggara negara yang memiliki kapasitas kepribadian unggul dan berjiwa filantropi sekaligus altruistik kini semakin langka di negeri ini .

Sebutan negarawan dalam dunia mereka pun semakin. sayup dan lenyap . Tinggal senyap .

Yang muncul lebih banyak orang profesional politik daripada negarawan . Mereka punya kepakaran dan mendapat bayaran besar , tapi nir komitmen ,integritas dan dedikasi .

Mereka memahami persolan negara dan bangsa lebih sebagai proyek dengan hitungan keuntungan serta reward yang kongkret daripada semesta masalah yang mendesak diatasi berdasarkan nilai – nilai penebusan untuk menciptakan ” surga ” kehidupan kolektif , yang semula hilang .

Kekuasaan tidak lagi disikapi dengan ” passion ” , yaitu semangat , gairah atau minat yang sangat mendalam terhadap suatu aktivitas , bidang atau tujuan , sehingga seseorang rela mendedikasikan waktu dan energinya karena mereka sangat menikmati prosesnya , bahkan siap mengatasi kesulitan demi mencapai hasil bernilai .

Namun , kekuasaan lebih disikapi dengan ” desire ” , yakni gairah nafsu dan ambisi untuk meraih kepentingan dan keuntungan material dan non material (kekuasaan , kehormatan dan eksistensi yang tak kenal batas )

Kekuasaan berbasis desire kini mewabah dan menjangkiti para penguasa , tokoh – tokoh elite negara , dan subyek otoritatif lain nya .

Mereka yang telah menikmati kekuasaan itu , tidak mengenal rasa kenyang , rasa cukup . Selalu merasa kurang dan kurang .

Hedonisme telah sukses beroperasi dalam praktik -praktik kekuasaan dinegeri ini . Kekayaan sebagai satu maknid dunia jadi pilihan utama daripada martabat.

Mereka memahami kekuasaan tidak sebagai amanah Tuhan untuk. melakukan penebusan terhadap ” surga ” yang hilang itu , tapi kesempatan dan potensi untuk lampiaskan watak kemaruk atau serakah .

Selalu abadi ingin berkuasa .Membangun politik dinasti atau politik kroni demi langgengkan kekuasaan .

Para penyelenggara negara atau elite politik dan ekonomi pun makin jauh dari asketisme, yang utamakan kejernihan / ketajaman akal budi , kejujuran , kesederhanaan , dan kemanfaatan bagi bangsa dan negara .

Seperti yang telah dilakukan para tokoh – tokoh teladan bangsa , seperti IJ Kasimo , Bung Hatta , Sutami dan Hoegeng. Iman Santoso .

Selain itu kita bisa belajar dari esensi kepergian pemimpin tertinggi iran , Imam Ayatollah Ali Khamenei .

Ali Khamenei tidak membangun kekuasaan lewat teriakan apalagi pencitraan , tetapi melalui konsistensi , kesederhanaan ,kejujuran serta visi besar menuju bangsa yang mandiri dan bermartabat .

Diera media sosial , kita sering mengira pemimpin hebat adalah yang paling keras , paling viral , paling banyak debatnya .

Padahal menurut Teori Kepemimpinan Autentik Biil George ( 2003 ) , pemimpin sejati adalah yang otentik , konsisten , dan membangun kepercayaan jangka panjang .

Kekuatan militer penting . Namun , kekuatan moral jauh lebih penting . Dan , pemimpin itu adalah menyatukan , bukan sebaliknya , memecah belah .

Mesti disadari sekuat apapun APBN, negara akan hancur jika pendidikan diabaikan , terus berperang dan yang utama jika rakyat tidak lagi percaya pada pemimpin.nya.

Itulah pelajaran penting dari sosok Ali Khamenei , pemimpin besar karismatis yang pada 9 juli 2026 dimakamkan dikota kelahiran nya .
( Indra Tranggono , Kekuasaan , Tidak Pernah Cukup , Kompas , 7 – 7 – 2026 , Saeful Millah , Kepergian Ali Khamenei , Jawa Pos , 9 – 7 – 2026 )

Selamat beraktifitas , salam sehat , Rahayu untuk pembaca budiman .


I WAYAN SUGITHA
alumni FH Unud 1981 ,
FH , Notariat Universitas Pajajaran , Bandung , 1985.
Werda Notaris / PPAT , Denpasar , 2023 .

Scroll to Top