Oleh: dr. I Wayan Widana, Sp.An., KMN., FIPM., FIPP., CIPS
Dokter Spesialis Anestesiologi dan Konsultan Manajemen Nyeri
Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Penderitanya sering merasakan nyeri berdenyut pada satu sisi kepala, disertai mual, muntah, serta tidak tahan terhadap cahaya maupun suara. Pada sebagian orang, migrain dapat muncul lebih dari 15 hari setiap bulan selama sedikitnya tiga bulan. Kondisi inilah yang disebut migrain kronik.
Migrain kronik dapat mengganggu pekerjaan, aktivitas keluarga, bahkan membuat seseorang kehilangan semangat menjalani kehidupan sehari-hari.
Mengapa Migrain Bisa Terjadi?
Selama bertahun-tahun, banyak orang mengira migrain hanya disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah di kepala. Kini para ahli mengetahui bahwa penyebabnya jauh lebih kompleks.
Di dalam kepala terdapat jaringan saraf yang sangat peka terhadap rasa nyeri. Ketika saraf ini aktif, tubuh akan melepaskan berbagai zat kimia, salah satunya Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP). Zat ini menyebabkan peradangan ringan di selaput otak (dura mater) sehingga timbul rasa nyeri yang hebat.
Menariknya, penelitian terbaru menemukan bahwa sebagian serabut saraf dari selaput otak keluar melalui celah-celah alami pada tulang tengkorak yang disebut sutura kranium atau sambungan tulang kepala. Melalui jalur inilah nyeri dari dalam kepala dapat dirasakan pada dahi, pelipis, maupun belakang kepala.
Apa Itu Sutura Kepala?
Tulang tengkorak sebenarnya tidak terbentuk dari satu tulang utuh, tetapi terdiri atas beberapa tulang yang saling menyatu melalui garis sambungan yang disebut sutura. Beberapa sutura yang penting antara lain: Sutura koronal di bagian depan kepala. Sutura sagital di bagian tengah kepala. Sutura lambdoid di bagian belakang kepala. Sutura skuamosa di daerah pelipis. Pada daerah inilah ditemukan banyak cabang saraf yang berhubungan dengan selaput otak.
Mengapa Daerah Ini Menjadi Target Pengobatan?
Karena banyak serabut saraf keluar melalui sutura tersebut, para peneliti mulai berpikir bahwa mengobati daerah ini mungkin lebih efektif dibandingkan hanya menyuntikkan obat ke otot kepala.
Konsep ini menjadi salah satu perkembangan terbaru dalam dunia kedokteran nyeri.
Terapi dengan Botulinum Toxin
Botulinum toxin atau yang lebih dikenal sebagai Botox bukan hanya digunakan untuk kecantikan.
Dalam dunia medis, obat ini telah lama digunakan untuk mengatasi migrain kronik. Cara kerjanya adalah mengurangi pelepasan zat-zat yang menyebabkan nyeri sehingga aktivitas saraf menjadi lebih tenang.
Sebelumnya, suntikan Botox diberikan pada banyak titik di otot kepala dan leher. Teknik ini dikenal dengan metode PREEMPT, yang menggunakan sekitar 31–39 titik suntikan. Kini muncul pendekatan baru yang disebut Follow the Sutures, yaitu menyuntikkan Botox di sepanjang garis sutura kepala, tempat keluarnya cabang-cabang saraf dari dalam tengkorak.
Apa Keuntungannya?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyuntikan pada daerah sutura memiliki beberapa keuntungan, yaitu: Menggunakan dosis obat yang lebih sedikit. Sasaran terapi lebih tepat. Risiko efek samping lebih rendah. Dapat memberikan perbaikan nyeri yang bertahan selama beberapa bulan.
Walaupun hasil awal sangat menjanjikan, teknik ini masih terus diteliti agar manfaat dan keamanannya semakin jelas.
Mengapa Menggunakan USG?
Dengan bantuan USG, dokter dapat melihat lapisan kulit kepala, jaringan di bawahnya, serta posisi sutura secara langsung. Hal ini membuat penyuntikan menjadi lebih akurat dan mengurangi risiko mengenai pembuluh darah atau jaringan lain yang tidak diinginkan.
Apakah Semua Penderita Migrain Membutuhkannya?
Tidak.
Sebagian besar penderita migrain dapat membaik dengan perubahan gaya hidup, pengaturan pola tidur, menghindari pencetus migrain, serta penggunaan obat-obatan yang sesuai.
Terapi suntikan biasanya dipertimbangkan pada pasien yang: Mengalami migrain kronik. Tidak membaik dengan pengobatan biasa. Mengalami efek samping obat. Kualitas hidupnya sangat terganggu.
Keputusan terapi harus dilakukan setelah pemeriksaan oleh dokter yang berpengalaman di bidang nyeri.
Harapan Baru bagi Penderita Migrain
Perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Penemuan hubungan antara saraf selaput otak dengan sutura kepala membuka peluang lahirnya terapi yang lebih tepat sasaran.
Walaupun teknik suntikan pada sutura kepala masih tergolong baru, hasil penelitian menunjukkan harapan besar untuk membantu pasien yang selama bertahun-tahun menderita migrain kronik.
Yang terpenting, jangan menganggap migrain sebagai keluhan yang harus ditahan. Bila sakit kepala terjadi berulang, mengganggu aktivitas, atau semakin sering muncul, segera berkonsultasilah dengan dokter agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Referensi
Kara M, Güngör Y, Özçakar L. Cranial Suture Injections for Chronic Migraine. Dalam: Akkaya T, Cömert A, editor. Practical Guide for Pain Interventions: Head and Neck Sonoanatomy. Springer Nature; 2025.
Ashina M, et al. Migraine: integrated approaches to clinical management. Lancet. 2021.
Blumenfeld AM, et al. Insights into the functional anatomy behind the PREEMPT injection paradigm. Headache. 2017.
American Headache Society. Consensus Statement on Chronic Migraine Management. 2021.
International Headache Society. International Classification of Headache Disorders (ICHD-3).