Oleh: dr. I Wayan Widana, Sp.An-KMN, FIPM, FIPP, CIPS
Pendahuluan
Kanker pankreas merupakan salah satu jenis kanker yang paling sulit diobati dan sering menimbulkan nyeri yang sangat berat. Banyak penderita mengeluhkan nyeri hebat di ulu hati, punggung, hingga seluruh perut yang mengganggu tidur, makan, bahkan aktivitas sehari-hari.
Sayangnya, tidak semua nyeri dapat diatasi hanya dengan obat-obatan seperti morfin. Seiring bertambahnya dosis, pasien sering mengalami efek samping berupa:
- Mengantuk berat
- Mual dan muntah
- Sembelit
- Kebingungan
- Ketergantungan opioid
Karena itu, dunia kedokteran terus mencari cara yang lebih efektif untuk mengurangi nyeri tanpa harus terus meningkatkan dosis obat.
Salah satu terapi yang kini menjadi harapan adalah Splanchnic Neurolysis, yaitu tindakan minimal invasif yang memutus penghantaran sinyal nyeri dari organ perut menuju otak.
Mengapa Kanker Pankreas Sangat Nyeri?
Pankreas memiliki jaringan saraf yang sangat kompleks. Saat kanker tumbuh, tumor dapat:
- Menekan saraf
- Menginvasi pleksus saraf
- Menyebabkan peradangan kronis
- Memicu pelepasan berbagai zat penyebab nyeri
Nyeri biasanya dirasakan:
- Ulu hati, perut bagian atas tembus ke punggung
- Menetap sepanjang hari, semakin berat saat malam hari
Bahkan sekitar 70–90% pasien kanker pankreas stadium lanjut mengalami nyeri berat.
Mengapa Obat Morfin Tidak Selalu Menjadi Solusi?
WHO memang merekomendasikan opioid sebagai terapi utama nyeri kanker. Namun dalam praktiknya terdapat berbagai masalah:
- Dosis semakin tinggi
- Efek obat semakin berkurang
- Tubuh menjadi toleran
- Muncul efek samping yang berat
Pada sebagian pasien, dokter tidak dapat lagi menaikkan dosis opioid karena efek samping jauh lebih berat dibanding manfaatnya.
Apa Itu Celiac Plexus Neurolysis?
Selama puluhan tahun tindakan standar untuk nyeri kanker pankreas adalah Celiac Plexus Neurolysis (CPN). Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan alkohol atau fenol pada pleksus celiac sehingga saraf penghantar nyeri menjadi rusak secara kimia.
Namun tindakan ini tidak selalu berhasil. Mengapa? Karena pada kanker stadium lanjut:
- Anatomi berubah
- Kelenjar getah bening membesar
- Tumor menekan pleksus
- Cairan obat tidak dapat menyebar sempurna
Akibatnya, nyeri tetap berlangsung walaupun prosedur sudah dilakukan.
Apa Itu Splanchnic Neurolysis?
Splanchnic Neurolysis adalah prosedur yang menargetkan saraf splanknik, yaitu jalur utama penghantar sinyal nyeri dari organ-organ perut bagian atas menuju otak.
Dokter ahli nyeri akan melakukan penyuntikan pada lokasi saraf yang lebih jauh dari tumor sehingga:
- Lebih mudah dijangkau
- Tidak terganggu oleh massa kanker
- Penyebaran obat lebih baik
Tindakan dilakukan menggunakan panduan fluoroskopi (C-arm) sehingga posisi jarum dapat dipastikan dengan akurat.

Kesimpulan
Nyeri pada kanker pankreas tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Jika obat penghilang nyeri sudah tidak lagi efektif atau menimbulkan efek samping yang berat, masih terdapat pilihan terapi intervensi seperti Splanchnic Neurolysis.
Berdasarkan penelitian yang menjadi dasar makalah ini, tindakan tersebut mampu menurunkan intensitas nyeri secara bermakna, mengurangi kebutuhan opioid, serta memberikan perbaikan yang bertahan hingga sedikitnya tiga bulan pada pasien yang sebelumnya gagal menjalani Celiac Plexus Neurolysis. Meskipun demikian, penelitian ini merupakan studi retrospektif dengan jumlah pasien terbatas sehingga diperlukan penelitian yang lebih besar untuk menguatkan hasilnya.
Pesan
Apabila Anda atau anggota keluarga menderita kanker pankreas dan mengalami nyeri yang tidak lagi terkontrol dengan obat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anestesi atau dokter yang menangani nyeri intervensi. Saat ini tersedia berbagai prosedur minimal invasif yang dapat membantu mengurangi nyeri, mengurangi ketergantungan terhadap opioid, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Referensi utama: Comlek S. Pain Control with Splanchnic Neurolysis in Pancreatic Cancer Patients Unresponsive to Celiac Plexus Neurolysis. Journal of Pain Research. 2020;13:2023-2031.