Oleh: Iwayan Sugitha
Dalam jalani hidup sebagai perjalanan , saat hadapi tamu – tamu hidup yang hadir silih ganti , tidak semua emosi harus dilampiaskan dan tidak semua sedih harus diperlihatkan .
Semuanya ada saat , waktu dan kuncinya keichlasan . Dan , hidup ada tiga cerita , siapa diri kita , dari mana asal kita , mau kemana kita pulang .
Datang mencari apa , saat pulang kekampung Nya mau bawa apa ? ( Ema Rahmola )
Karena Hidup adalah Memilih , aku lebih suka diragukan , daripada diandalkan .
Karena lebih menarik diragukan daripada diandalkan . Diragukan itu sebuah tantangan dan diandalkan itu tekanan .
Dan , manusia itu ibarat sebuah buku . Ada yang menipu kita dengan covernya . Dilain sisi , ada yang membuat kita kagum dengan isinya .
Dari itu muncul istilah ” Don’t Judge A Book Bay ITS Cover ” . Yang terlihat baik ada kalanya munafik , yang terlihat jahat , ada kalanya berhati mulia.( Nasroh Baelaah )
Contoh , Sosok Sukrasana , tokoh pewayangan yang buruk secara fisik , namun sakti berwatak mulia .
Kutip Damarjati Supadjar, ahli filsafat universitas Gajah Mada , memaknai Sukrasana sebagai ” suka sarana ” atau memberi kan jalan penyelesaian atas masalah .
Ia selalu mau berkorban untuk kepentingan orang lain atas dasar cinta dan berharap wujudkan dunia ideal . Tidak menghitung untung rugi atas pilihan nya .
( Indra Tranggono , Kompas , 7 – 12 – 2012 )
Selamat beraktifitas , semangat , salam sehat dan Rahayu untuk Anda dan kita semua .