Oleh: dr. I Wayan Widana, Sp.An., KMN., FIPM., FIPP., CIPS
Dokter Spesialis Anestesiologi – Konsultan Manajemen Nyeri
Artritis atau radang sendi merupakan salah satu penyebab utama nyeri kronis dan disabilitas di seluruh dunia. Penyakit ini mencakup berbagai kondisi, terutama osteoartritis (OA) dan artritis reumatoid (RA). Osteoartritis umumnya terjadi akibat proses degeneratif pada tulang rawan dan cedera sendi, sedangkan artritis reumatoid merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendi sendiri.
Meskipun penyebab keduanya berbeda, terdapat satu keluhan yang sama dirasakan hampir semua penderita, yaitu nyeri kronis yang menetap. Selama bertahun-tahun nyeri dianggap hanya sebagai akibat dari peradangan. Namun penelitian mutakhir menunjukkan bahwa hubungan tersebut jauh lebih kompleks. Sistem saraf dan sistem imun ternyata saling berkomunikasi secara aktif sehingga membentuk suatu dialog biologis yang dapat memperparah peradangan sekaligus mempertahankan nyeri.
Sendi: Lebih dari Sekadar Tulang dan Tulang Rawan
Di dalam setiap sendi terdapat lapisan tipis yang disebut sinovium. Lapisan ini menghasilkan cairan sinovial yang berfungsi melumasi sendi dan memberi nutrisi pada tulang rawan.
Pada kondisi normal, sinovium dipenuhi berbagai sel yang bekerja menjaga keseimbangan, antara lain:
Makrofag sebagai petugas kebersihan sistem imun. Fibroblas yang membentuk jaringan penunjang.
Pembuluh darah yang memasok nutrisi. Serabut saraf yang memantau keadaan sendi.
Keempat komponen tersebut hidup dalam keseimbangan yang sangat teratur. Namun ketika terjadi artritis, keseimbangan ini berubah drastis.
Ketika Sistem Imun Mengaktifkan Saraf Nyeri
Saat sendi mengalami peradangan, sel-sel imun melepaskan berbagai zat kimia yang disebut sitokin, seperti TNF-α, IL-1β, dan IL-6. Molekul-molekul ini sebenarnya bertujuan melawan kerusakan jaringan.
Masalahnya, serabut saraf nyeri (nociceptor) memiliki reseptor khusus yang mampu mengenali sitokin tersebut. Akibatnya, saraf menjadi jauh lebih sensitif. Rangsangan ringan yang sebelumnya tidak menimbulkan rasa sakit kini terasa sangat nyeri. Bahkan tanpa adanya gerakan, saraf dapat mengirimkan sinyal nyeri secara spontan ke otak. Selain sitokin, jaringan yang rusak juga menghasilkan Nerve Growth Factor (NGF) yang meningkatkan aktivitas kanal ion seperti TRPV1 dan Nav1.8 pada ujung saraf. Kedua kanal ini berperan penting dalam menghantarkan impuls nyeri sehingga penderita menjadi semakin sensitif terhadap sentuhan maupun tekanan.
Saraf Ternyata Membalas Serangan
Penemuan paling menarik dalam dekade terakhir adalah bahwa komunikasi tersebut ternyata berlangsung dua arah. Saraf tidak hanya menerima sinyal dari sistem imun, tetapi juga mengirimkan balasan. Ketika saraf nyeri aktif, ujung saraf akan melepaskan berbagai neuropeptida, terutama:
Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP), Substance P. Kedua molekul ini bukan sekadar pembawa sinyal nyeri. Mereka juga mampu mengaktifkan kembali sel-sel imun di dalam sendi.
CGRP meningkatkan kemampuan makrofag merespons rangsangan peradangan, sedangkan Substance P mengaktifkan jalur NF-κB yang meningkatkan produksi berbagai mediator inflamasi. Akibatnya terbentuk suatu lingkaran setan:
Peradangan mengaktifkan saraf → saraf melepaskan neuropeptida → neuropeptida memperberat peradangan → peradangan semakin mengaktifkan saraf.
Siklus inilah yang diduga menjadi penyebab utama mengapa nyeri artritis dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Mengapa Nyeri Tetap Ada Meski Peradangannya Berkurang?
Banyak pasien bertanya mengapa nyeri tetap bertahan walaupun hasil pemeriksaan menunjukkan peradangan sudah menurun. Jawabannya kemungkinan berada pada perubahan sistem saraf.
Peradangan yang berlangsung lama menyebabkan terbentuknya serabut saraf baru (nerve sprouting), peningkatan sensitivitas saraf perifer, bahkan perubahan cara otak memproses nyeri (sensitisasi sentral). Akibatnya, sistem saraf seolah “mengingat” rasa sakit sehingga nyeri tetap dirasakan walaupun penyebab awalnya sudah jauh berkurang. Inilah alasan mengapa terapi artritis tidak cukup hanya mengobati sendi, tetapi juga harus memperhatikan mekanisme nyeri.
Harapan Baru dalam Pengobatan
Pemahaman mengenai komunikasi antara sistem saraf dan sistem imun membuka peluang lahirnya terapi yang lebih efektif.
Berbagai penelitian kini mengembangkan obat-obatan yang secara spesifik menghambat jalur komunikasi tersebut, misalnya: antibodi terhadap NGF, penghambat IL-6, inhibitor TNF-α, terapi yang menargetkan CGRP maupun Substance P, hingga teknik intervensi nyeri berbasis ultrasound yang memutus transmisi nyeri secara lebih selektif.
Pendekatan ini diharapkan memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu mengurangi peradangan dan menurunkan nyeri kronis.
Kesimpulan
Kini semakin jelas bahwa artritis bukan sekadar penyakit sendi, melainkan gangguan kompleks yang melibatkan interaksi erat antara sistem imun dan sistem saraf. Keduanya saling memengaruhi dalam suatu komunikasi biologis yang terus-menerus. Ketika komunikasi ini berubah menjadi lingkaran setan, nyeri kronis dan kerusakan sendi akan semakin berat.
Memahami mekanisme neuroimun ini merupakan langkah penting menuju era baru pengobatan artritis, di mana terapi tidak lagi hanya berfokus pada menghilangkan peradangan, tetapi juga memutus komunikasi yang mempertahankan nyeri.
Dengan demikian, harapan untuk meningkatkan kualitas hidup jutaan penderita artritis menjadi semakin nyata.
Referensi
McMahon SB, et al. Wall & Melzack’s Textbook of Pain. 7th Edition.
Walsh DA, McWilliams DF. Mechanisms, impact and management of pain in rheumatoid arthritis. Nat Rev Rheumatol.
Ji RR, Xu ZZ, Gao YJ. Emerging targets in neuroinflammation-driven chronic pain. Nat Rev Drug Discov.
Kolasinski SL, et al. 2024 Guidelines for the Management of Osteoarthritis.
Firestein GS, Budd RC, Gabriel SE, et al. Kelly’s Textbook of Rheumatology. 12th Edition.