Oleh : Iwayan Sugitha
Mereka berdua adalah 2 sosok besar dalam sejarah perjuangan bangsa , yang mengatas namakan Bangsa saat Proklamasi
Kemerdekaan . Beliau berdua, mewakili dua unsur kebudayaan Indonesia yakni :
Indonesia Dalam yang bercorak agraris ,pertanian beririgasi yang sangat kuat dipengaruhi oleh Hinduisme & stimulus peradaban china .
Dan, Kebudayaan Indonesia luar, yang bercorak perdagangan pesisir yang dipengaruhi Islam dan stimulus Barat .
Bungkarno mewakili yang pertama, Indonesia bercorak pertanian beririgasi dan Bung Hatta mewakili yang kedua , perdagangan pesisir .
Dalam kejernihan bening budi Bangsa Indonesia , bahwa kemerdekaan dapat dicapai dengan mengisi etos dua kebudayaan itu .
Dihari , tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, sebelum kehadiran Hatta digedung Proklamasi Kemerdekaan, jalan Pegangsaan Timur , 56 , Jakarta. Soekarno menyatakan, walaupun dalam keadaan didesak & dikrumuni kaum muda , agar segera mengucapkan Proklamasi , tetap tidak bangun dari peraduan , sebelum hadirnya sebuah nama , beliau berkata ” aku masih merasa demam namun tidak kehilangan akal hadapi desakan & kerumunan orang .
Aku tidak mau bacakan Proklamasi tanpa kehadiran Hatta . Walaupun tumbuh dalam lingkungan budaya beda & kateristik personal berbeda, namun tidak berarti keduanya tidak memiliki persamaan.
Baik di pedalaman & pesisir pantai , Indonesia semangat gotong royong ( kekeluargaan) sangat di tekankan . Bahwa seseorang hanya dapat memproleh makna eksistensialnya dalam kemampuan berbakti pada kebersamaan.
Selama beliau berdua menempuh pendidikan lanjutan dan pembuangan politik , namun keduanya sama sama punya kesadaran terhadap multi kultularisme .
Tapi , dalam pelaksanaan semangat gotong & multi kultularisme keduanya beda perspektif . Sifat pendalaman lebih menekankan pada merawat kesatuan – persatuan ( unity ) Dan sifat pesisir yang dipersial , lebih pentingkan pada merawat perbedaan keragaman ( diversity )
Jadi , Bung Karno , Bung Hatta selain sebagai pelaku , penemu kemerdekaan Indonesia , adalah Bapak Proklamator Bangsa Indonesia yang Saling melengkapi. Sebagai sejoli monodualisme. Kekuatan sejarah Indonesia ” Bhineka Tunggal Ika ( Unity in Divercity . Divercity in Unity ) . Laksana sepasang sayap , Indonesia tidak dapat selamat terbang dengan meninggalkan satu sayap nya . NKRI Harga mati, yang kita cintai bersama dengan Pancasila sebagai dasar negara.
( Yudi Latif , Harmoni Soekarno – Hatta , Kompas , 16 – 8 – 2013) .
Selamat beraktifitas, salam Sehat dan Rahayu untuk Anda dan kita semua.