Kenali Gejalanya, Cegah Kecacatan Tangan
Oleh: dr. I Wayan Widana, Sp.An-KMN, FIPM, CIPS, FIPP
KONSULTAN MANAJEMEN NYERI
Pernahkah Anda terbangun tengah malam karena tangan terasa kesemutan atau kebas? Atau sering menjatuhkan gelas, sendok, atau telepon genggam karena genggaman melemah? Jangan anggap sepele. Keluhan tersebut bisa menjadi tanda Carpal Tunnel Syndrome (CTS) atau Sindrom Terowongan Karpal, salah satu penyakit saraf terjepit yang paling sering dijumpai.
CTS dapat menyerang siapa saja, terutama mereka yang sering menggunakan tangan secara berulang, penderita diabetes, ibu hamil, hingga pasien dengan penyakit rematik seperti rheumatoid arthritis. Kabar baiknya, jika dikenali sejak dini, sebagian besar pasien dapat membaik tanpa harus menjalani operasi.
Apa Itu Carpal Tunnel Syndrome?
Di pergelangan tangan terdapat sebuah lorong sempit yang disebut carpal tunnel. Di dalam lorong ini terdapat saraf median yang berfungsi memberikan rasa pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis, sekaligus mengendalikan beberapa otot ibu jari.
Apabila lorong tersebut menyempit atau jaringan di sekitarnya membengkak, saraf median akan tertekan. Inilah yang disebut Carpal Tunnel Syndrome.
Bayangkan kabel listrik yang terjepit pintu. Semakin lama terjepit, aliran listrik akan terganggu. Hal yang sama terjadi pada saraf median ketika mendapat tekanan terus-menerus.
Mengapa Bisa Terjadi?
Berbagai kondisi dapat meningkatkan risiko CTS, antara lain:
- Diabetes mellitus
- Rheumatoid arthritis (rematik)
- Hipotiroid
- Kehamilan
- Obesitas
- Cedera pergelangan tangan
- Aktivitas berulang menggunakan tangan, seperti mengetik, menjahit, menggunakan alat getar, atau pekerjaan manual lainnya.
Pada penderita rheumatoid arthritis, peradangan menyebabkan pembengkakan selubung tendon sehingga ruang dalam carpal tunnel semakin sempit dan menekan saraf median.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Keluhan biasanya muncul perlahan dan semakin berat bila tidak ditangani.
Gejala yang sering dialami meliputi:
- Kesemutan pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis.
- Mati rasa pada tangan.
- Nyeri yang sering membangunkan tidur pada malam hari.
- Tangan terasa lemah saat menggenggam benda.
- Sulit membuka tutup botol atau memegang sendok.
- Benda mudah terjatuh dari tangan.
- Pada kondisi berat, otot pangkal ibu jari mengecil sehingga kemampuan mencubit menjadi sangat berkurang.
Banyak pasien mengatakan mereka harus mengibaskan tangan beberapa kali agar rasa kesemutan berkurang.
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?
Diagnosis dimulai dari wawancara mengenai keluhan dan pemeriksaan fisik.
Beberapa pemeriksaan sederhana meliputi:
- Tes Tinel, yaitu mengetuk area saraf di pergelangan tangan untuk melihat apakah muncul sensasi kesemutan.
- Tes Phalen, dengan menekuk kedua pergelangan tangan selama sekitar satu menit.
- Pemeriksaan kekuatan otot ibu jari dan kemampuan menggenggam.
Bila diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan berupa:
- Studi hantar saraf (Nerve Conduction Study/EMG) sebagai standar emas untuk memastikan adanya saraf terjepit.
- Ultrasonografi (USG) untuk melihat ukuran saraf median, pembengkakan, maupun kelainan jaringan di sekitarnya.
USG juga membantu dokter menentukan lokasi saraf secara tepat bila diperlukan tindakan intervensi.
Kisah Seorang Pasien
Seorang perempuan berusia 65 tahun datang dengan keluhan kesemutan pada kedua tangan selama empat bulan. Keluhan lebih berat pada tangan kanan dan terutama muncul pada malam hari hingga mengganggu tidur.
Ia juga mulai sulit memegang gelas dan merasa kekuatan tangannya berkurang. Pemeriksaan menunjukkan hasil positif pada Tes Tinel dan Tes Phalen, disertai kelemahan otot ibu jari.
Pasien diketahui menderita rheumatoid arthritis. Pemeriksaan saraf dan USG memastikan adanya penjepitan saraf median pada kedua tangan.
Kasus seperti ini cukup sering dijumpai karena peradangan akibat rematik menyebabkan pembengkakan jaringan di sekitar saraf.
Bagaimana Pengobatannya?
Penanganan CTS bergantung pada tingkat keparahan penyakit.
Pada tahap awal, dokter biasanya menganjurkan:
- Menggunakan wrist splint terutama saat tidur.
- Mengurangi aktivitas yang memperberat keluhan.
- Latihan peregangan tangan.
- Obat antinyeri bila diperlukan.
- Obat khusus nyeri saraf pada pasien tertentu.
- Mengendalikan penyakit penyebab, seperti diabetes atau rheumatoid arthritis.
Bila keluhan tidak membaik, terapi intervensi dapat dipertimbangkan.
Terapi Modern: Hydrodissection dengan Panduan USG
Salah satu perkembangan terbaru dalam terapi CTS adalah ultrasound-guided median nerve hydrodissection.
Pada prosedur ini, dokter menggunakan USG untuk melihat saraf secara langsung. Selanjutnya cairan steril disuntikkan di sekitar saraf sehingga terbentuk ruang yang memisahkan saraf dari jaringan yang melekat atau menekannya.
Tujuan tindakan ini adalah:
- mengurangi tekanan pada saraf,
- melepaskan perlengketan,
- memperbaiki pergerakan saraf,
- mengurangi nyeri dan kesemutan,
- serta meningkatkan fungsi tangan.
Karena menggunakan panduan USG, tindakan menjadi lebih akurat dan risiko mengenai pembuluh darah maupun tendon dapat diminimalkan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hydrodissection, terutama menggunakan larutan dextrose 5% atau cairan fisiologis pada pasien yang tepat, dapat memberikan perbaikan gejala, terutama pada CTS ringan hingga sedang. Namun, terapi ini tetap harus dilakukan oleh dokter yang berpengalaman.
Kapan Harus Operasi?
Operasi bukanlah pilihan pertama untuk semua pasien.
Dokter akan mempertimbangkan operasi bila:
- terjadi kelemahan otot yang semakin berat,
- otot pangkal ibu jari mulai mengecil,
- hasil pemeriksaan saraf menunjukkan CTS berat,
- gejala menetap meskipun terapi konservatif telah dilakukan,
- atau terdapat gangguan fungsi tangan yang progresif.
Bisakah CTS Dicegah?
Beberapa langkah sederhana dapat membantu menurunkan risiko CTS:
- Istirahat setiap 30–60 menit saat bekerja menggunakan tangan.
- Lakukan peregangan jari dan pergelangan tangan secara berkala.
- Gunakan posisi pergelangan tangan yang netral saat mengetik.
- Kendalikan kadar gula darah bila menderita diabetes.
- Obati penyakit rematik secara teratur.
- Pertahankan berat badan ideal.
- Jangan mengabaikan kesemutan yang terus berulang.
Penutup
Carpal Tunnel Syndrome bukan sekadar kesemutan biasa. Bila dibiarkan, penyakit ini dapat menyebabkan kelemahan tangan permanen dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kemajuan teknologi, terutama ultrasonografi, memungkinkan diagnosis yang lebih akurat sekaligus terapi yang lebih presisi. Dengan deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta pemilihan pasien yang sesuai, banyak penderita CTS dapat memperoleh perbaikan yang bermakna tanpa harus menjalani operasi.
Pesan untuk masyarakat: bila Anda sering mengalami kesemutan pada ibu jari, telunjuk, atau jari tengah—terutama pada malam hari—jangan menunggu hingga tangan menjadi lemah. Segeralah berkonsultasi dengan dokter agar penanganan dapat dilakukan sejak dini. Pencegahan dan terapi yang tepat akan membantu menjaga fungsi tangan tetap optimal sepanjang hidup.

Referensi
- American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS). Clinical Practice Guideline on the Management of Carpal Tunnel Syndrome. 2024.
- Bland JDP. Carpal tunnel syndrome. BMJ. 2023.
- Wu YT, et al. Ultrasound-guided hydrodissection for carpal tunnel syndrome: systematic review and meta-analysis. Pain Physician. 2024.
- American Association of Neuromuscular & Electrodiagnostic Medicine (AANEM). Practice recommendations for electrodiagnostic evaluation of CTS. 2023.
- European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR). Recommendations for the management of rheumatoid arthritis. 2023.