Oleh: I Wayan Sugitha
Kebahagiaan adalah salah satu tujuan hidup kita dalam jalani kehidupan. Bukan kah dalam laksanakan Swadarma kehidupan kita mencari sesuatu yang lebih baik lagi?
Kalau semua orang dalam hidupnya berusaha menemukan kebahagiaan, namun banyak orang yang mencari kebahagiaan tidak menemukan.
Ini bukan berarti kebahagiaan itu sulit ditemukan. Bahkan sebenarnya kebahagiaan itu tidak jauh dan dekat dengan diri kita.
Yang membuat sulit menemukan bahagia dalam jalankan kehidupan, karena kita sering terkecoh oleh sesuatu yang disebut “kesenangan”.
Banyak orang merancukan kebahagiaan dengan kesenangan. Kesenangan bersifat sementara. Bisa dicapai dari hal-hal yang bersifat fisik.
Ini menghasilkan kepuasan, namun kepuasan tidak bertahan lama. Kebahagiaan yang bergantung dengan kesenangan fisik, tidak mantap; suatu hari, kebahagiaan itu Anda rasakan, esoknya mungkin tidak.
Ketika memilih “kesenangan” dan menganngapnya sebagai kebahagiaan, kita sudah berjalan kearah yang berbeda dengan jalan kebahagiaan.
Karena itu , semakin jauh menikmati kesenangan , semakin jauh pulalah kita dari jalan kebahagiaan . Suatu contoh , ketika seorang akan melakukan korupsi , ia dodorong dengan keinginan hidup lebih baik , hidup nya lebih nyaman untuk capai kebahagiaan .
Pelaku korupsi sebenarnya ingin mencari kebahagiaan, tapi ia tidak menyadari apa yang ada didepan mata bukan kebahagiaan.
Yang ia hadapi sebenarnya adalah kesenangan dan dianggap sebagai kebahagiaan. Kesenangan yang menyamar sebagai kebahagiaan.
Kesenangan dan kebahagiaan adalah dua jalanmembentang dengan arah berlawanan. Ketika memilih jalan kesenangan, kita sebenarnya berjalan menjauhi jalan kebahagiaan.
Mencuri Kebahagiaan
Membandingkan diri dengan orang lain adalah kebiasaan yang diam – diam mencuri kebahagiaan.
Setiap orang sebagai hamba-hamba Nya punya waktu, jalan dan tantangan berbeda. Mengukur nilai diri dengan pencapaian orang lain hanya akan lahirkan rasa iri, rendah diri, bahkan kesombongan ketika merasa lebih unggul.
Pertumbuhan sesunguhnya tidak diukur dari seberapa jauh kita melampoi orang lain, melainkan seberapa besar kita melampoi diri sendiri.
Apakah hari ini kita lebih bersabar dari kemarin, lebih bijak dalam ambil keputusan, lebih disiplin jalankan tanggung jawab, lebih berani hadapi ketakutan yang dahulu menghalangi langkah perubahan-perubahan kecil itu sering tidak dapat tepukan tangan, tapi justru jadi fondasi perubahan besar dimasa datang.
Mereka yang terus perbaiki diri, tidak selalu bergerak paling cepat, tapi mereka tidak pernah berhenti bertumbuh.
Jadikan diri sendiri sebagai tolok ukur perjalanan hidup. Belajar dari keberhasilan orang lain dan tidak jadikan hidup mereka sebagai ukuran kebahagiaan.
Sebab hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi lebih hebat dari siapapun , melainkan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari – kehari.
Saat fokus mu beralih dari persaingan menuju pertumbuhan, hatimu akan lebih tenang, langkah lebih mantap, dan setiap kemajuan sekecil apapun terasasebagai kemengan yang patut di syukuri.
(Arvan Pradianyah, Tujuh Rahasia Hidup Yang Bahagia)
Salam sehat untuk para sahabat, pembaca budiman, Rahayu untuk semua.