Oleh: dr. I Wayan Widana, Sp.An-KMN, FIPM, FIPP, CIPS
Nyeri lutut merupakan salah satu keluhan yang paling sering dialami masyarakat, terutama setelah usia 50 tahun. Banyak orang menganggap nyeri tersebut hanyalah akibat “pengapuran” atau penipisan tulang rawan. Tidak sedikit pula yang berpikir bahwa operasi adalah satu-satunya jalan keluar ketika rasa sakit semakin berat. Padahal, ilmu kedokteran modern menunjukkan bahwa osteoartritis lutut jauh lebih kompleks daripada sekadar kerusakan tulang rawan.
Lutut Adalah Satu Kesatuan Organ
Selama bertahun-tahun, osteoartritis dianggap sebagai penyakit tulang rawan. Kini para ahli memahami bahwa lutut bekerja sebagai satu kesatuan organ. Selain tulang rawan, nyeri juga dapat berasal dari kapsul sendi, ligamen, tendon, jaringan ikat (fasia), otot, tulang di bawah tulang rawan, hingga lapisan sinovium. Artinya, seseorang dapat mengalami nyeri hebat meskipun kerusakan tulang rawannya tidak terlalu berat. Sebaliknya, ada orang dengan hasil foto rontgen yang tampak buruk tetapi hanya merasakan sedikit nyeri. Pemahaman baru ini mengubah cara dokter melihat dan menangani nyeri lutut.
Mengapa Pemeriksaan USG Semakin Penting?
Selama ini pemeriksaan lutut lebih banyak mengandalkan foto rontgen atau MRI. Namun perkembangan teknologi ultrasonografi (USG) muskuloskeletal memungkinkan dokter melihat jaringan lunak secara langsung. USG mampu memperlihatkan tendon, ligamen, fasia, cairan sendi, serta berbagai jaringan di sekitar lutut yang sering menjadi sumber nyeri tetapi tidak tampak pada foto rontgen. Keunggulan lainnya adalah tindakan penyuntikan dapat dilakukan dengan panduan USG sehingga jarum dapat diarahkan secara tepat menuju jaringan yang menjadi sasaran. Hal ini meningkatkan akurasi sekaligus mengurangi risiko mengenai pembuluh darah maupun saraf.
Pendekatan Baru: Menargetkan Jaringan Fasia
Teknik penyuntikan dengan panduan USG pada daerah belakang bagian dalam lutut (posteromedial fascial-periarticular injection). Berbeda dengan suntikan yang hanya masuk ke dalam sendi, teknik ini menyasar jaringan fasia dan jaringan lunak di sekitar lutut yang diduga ikut berperan dalam timbulnya nyeri. Biasanya dilakukan dengan tiga kali penyuntikan dengan interval satu bulan menggunakan larutan dekstrosa 5% yang dikombinasikan dengan lidokain dosis rendah dengan panduan USG.
Bagaimana Hasilnya?
Pada pasien dengan osteoartritis lutut derajat ringan hingga sedang biasanya ada perbaikan yang konsisten pada: nyeri, kekakuan sendi, kemampuan berjalan dan beraktivitas, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Nilai WOMAC (Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index), yaitu alat ukur internasional untuk menilai keluhan osteoartritis, biasanya mengalami penurunan lebih dari 50% setelah satu tahun. Pasien biasanya menunjukkan perbaikan dibandingkan kondisi awal, dan umumnya tidak ditemukan efek samping serius. Keluhan yang muncul hanya berupa nyeri ringan sementara setelah tindakan pada sebagian kecil pasien.
Apakah Ini Berarti Osteoartritis Sudah Bisa Disembuhkan?
Jawabannya adalah belum.
Terapi ini memberikan harapan baru, namun masih perlu pengamatan yang melibatkan jumlah pasien yang lebih banyak. Artinya masih diperlukan penelitian yang lebih besar, melibatkan banyak rumah sakit, serta menggunakan metode uji klinis acak (randomized controlled trial) sebelum teknik ini dapat direkomendasikan secara luas.
Apa yang Harus Dilakukan Penderita Nyeri Lutut?
Bagi masyarakat yang mengalami nyeri lutut, langkah pertama bukanlah langsung meminta suntikan atau operasi. Yang jauh lebih penting adalah mendapatkan diagnosis yang tepat.
Dokter akan menilai apakah nyeri berasal dari pengapuran, cedera meniskus, gangguan tendon, otot, ligamen, ataupun kombinasi beberapa penyebab sekaligus. Sebagian besar penderita tetap memerlukan penanganan menyeluruh yang meliputi: edukasi mengenai penyakit, latihan penguatan otot, menjaga berat badan ideal, aktivitas fisik yang sesuai, obat bila diperlukan, fisioterapi, dan pada kasus tertentu dapat dipertimbangkan tindakan intervensi dengan panduan USG. Pendekatan yang tepat akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Masa Depan Penanganan Nyeri Lutut
Kemajuan teknologi USG telah mengubah cara dokter menangani berbagai gangguan muskuloskeletal. Jika dahulu penyuntikan dilakukan berdasarkan perkiraan anatomi, kini dokter dapat melihat langsung jaringan yang menjadi sasaran secara real time.
Hal ini membuka peluang munculnya berbagai teknik baru yang lebih presisi, termasuk pendekatan pada jaringan fasia yang selama ini sering diabaikan. Meskipun demikian, masyarakat perlu memahami bahwa tidak ada satu terapi yang cocok untuk semua orang. Penanganan osteoartritis tetap harus dilakukan secara individual berdasarkan penyebab nyeri, tingkat kerusakan sendi, aktivitas pasien, dan tujuan pengobatan.
Penutup
Osteoartritis bukan sekadar penyakit tulang rawan, melainkan gangguan seluruh struktur lutut. Pemahaman baru ini membawa harapan melalui teknologi USG yang mampu membantu diagnosis sekaligus memandu terapi secara lebih akurat. Penelitian terbaru menunjukkan hasil yang menjanjikan terhadap teknik penyuntikan pada jaringan fasia di sekitar lutut, namun bukti ilmiahnya masih terus berkembang. Yang terpenting bagi masyarakat adalah tidak menunda pemeriksaan ketika nyeri lutut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Dengan diagnosis yang tepat, pengobatan yang sesuai, serta perubahan gaya hidup yang sehat, sebagian besar penderita osteoartritis dapat tetap aktif, mandiri, dan menikmati kualitas hidup yang baik.

Sumber bacaan
Lam KHS, Yoon Y, Suryadi T, Su DCJ, Wang WC, Lai WW, Ida Y, Onishi K. Ultrasound-Guided Posteromedial Fascial–Periarticular Injection for Mild-to-Moderate Knee Osteoarthritis: Twelve-Month WOMAC Outcomes in a Retrospective Pilot Case Series. Diagnostics. 2026;16:2382. DOI: https://doi.org/10.3390/diagnostics16152382