PAHLAWAN

Oleh : IBG Dharma Putra

Empat orang idola saya, tidak satu orang idola pun yang disemayamkan di Makam Pahlawan. Bung Karno dibaringkan Blitar, Pak Harto tentu memilih istirahat di Pemakaman Imogiri. Gus Dur dikembali ke Pondok Pesantren Tebu Ireng serta Daoed Yoesoef lebih suka di pemakaman biasa.

Namanya juga idola tentu ada perasaan sangat subjektif untuk membelanya sehingga arsitektur makan Bung Karno di Blitar, selalu menimbulkan kekecewaan di hati, karena tidak sesuai dengan pesannya, untuk dimakamkan di bawah pohon nan rindang, berbatu nisan sederhana dengan tulisan, Bung Karno, Penyambung Lidah Bangsa Indonesia.

Pilihan tempat makam terasa sesuai dengan perjalanan hidup sebab secara nyata pilihannya itu, membuat mereka terbebas dari perbenturan kontroversial tentang makna kepahlawanan di era sekarang ini. Pilihan yang menjauhkan dari perdebatan yang terkadang muncul ketika gelar kepahlawanan dipertemukan dengan politik dan
perbedaan tafsir sejarah, atau penilaian moral.

Pemakaman tak hanya tempat membaringkan jasad tapi cermin bagaimana seseorang ingin dikenang. Ketika memilih dikubur di lingkungan keluarga, pesantren, atau pemakaman umum, mereka seakan menyerahkan seluruh penilaian atas hidupnya kepada perjalanan sejarah, tidak kepada kemegahan monumen.

Keempat idola, memahami bahwa hormat yang sejati tak lahir dari lokasi makam, tapi dari jejak gagasan, keteladanan, dan manfaat yang terus hidup dalam ingatan masyarakat. Sejarah pada akhirnya lebih jujur dibanding puja serta pujian yang dibangun pada masa kuasa. Pahlawan adalah seorang pejuang yang menonjol karena kegagahan, keberanian serta pengorbanannya dalam membela kebenaran.

Dalam pengertian diatas, seorang pahlawan wajib tangguh secara fisik dan mental, khusus saat menghadapi rintangan dan musuh. Sikap pantang menyerah yang didasari keteguhan hati untuk menegakkan keadilan dan kebenaran meski harus menghadapi ancaman atau risiko yang membahayakan diri sendiri. Pahlawan juga ikhlas memberi waktu, tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kepentingan yang lebih besar, yakni masyarakat, bangsa, negara dan kemanusiaan.

Arti pahlawan saat ini tidak lagi terbatas pada mereka yang mengangkat senjata. Siapa pun yang memberikan dampak positif, melakukan perbuatan mulia, dan bermanfaat bagi orang banyak atau masyarakat luas dapat disebut sebagai pahlawan. Bahkan semasih hidup telah digadang gadang dan dibanggakan sebagai pahlawan walau sebelum sempat mati, ternyata terbukti korupsi. Pahlawan kok korupsi, konyol sekali.

Pahlawan tak meminta gelar pahlawan karena memang sudah mengharumkan tanah tempat jenazah sang pahlawan dibaringkan, berbeda dengan pahlawan kesiangan yang sembunyikan korupsi dibalik kegiatan yang tampak populis, bahkan sebelum matipun, tidak malu namanya diabadikan sebagai nama gedung, jalan atau tempat tempat populer di wilayah kuasanya.

Setiap tokoh besar tentu memiliki jasa sekaligus sisi yang diperdebatkan tetapi kerendahan hati untuk tak menjadikan diri, pusat penghormatan justru memberi ruang bagi masyarakat menilai secara lebih dewasa. Kepahlawanan akhirnya tidak diukur dari besarnya penghormatan yang diterima, tapi dari kesediaan membiarkan karya, pengabdian, dan pengorbanannya berbicara melampaui zamannya.

Pada akhirnya, pahlawan bukan mereka yang paling banyak memperoleh gelar, monumen, atau penghormatan, tetapi yang meninggalkan warisan nilai yang tetap menghidupkan harapan bagi bangsanya. Gelar bisa dianugerahkan oleh negara, monumen bisa dibangun oleh generasi, tetapi keteladanan hanya dapat dibangun oleh kehidupan itu sendiri.

Karenanya, ukuran paling luhur bagi pahlawan bukan tempat dimakamkan atau cara dikenang tapi legasinya untuk membuat bangsa menjadi lebih beradab, lebih adil serta lebih manusiawi oleh dan berkat jejak yang pernah ditinggalkan sebelum meninggalnya.

Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur dan Pak Daoed Yoesoef tak ingin jadi pahlawan, mereka hanya inginkan anak negeri yang hidupnya sejahtera di negara yang adil dan makmur. Bagi yang ingin jadi pahlawan sebaiknya kriteria yang dipakai adalah kriteria mereka itu, bukan kriteria baru yang lebih mendahulukan kepentingan pribadi untuk bertahan lama dalam kuasa, selanjutnya
mewariskan kekuasaan pada anak cucu sendiri,

Banjarmasin
18072026

Scroll to Top