DOKTER PENJAGA ASA

Oleh : IBG Dharma Putra

Menjadi dokter nan tampak mentereng dari luar, sebenarnya tak sekadar memilih pekerjaan, tapi memilih jalan pengabdian, mempertemukan ilmu dengan kemanusiaan. Setiap hari menyediakan waktu untuk mendengar keluhan dan harapan, ikhtiar dan ketidakpastian, dugaan kesembuhan dan takdir, sampai sejenak terlupa kepentingan diri, keluarga dan kerabatnya.

Hidupnya dalam ironi komedi, menjadi candaan dikalangan sendiri bahwa dokter yang berpunya tak punya waktu menikmati duitnya sebab sibuk melayani pasien sedang yang tak punya pasien, akan punya banyak waktu, tak punya duit untuk menikmati waktunya.

Karena itu, jangan ukur kemuliaan dokter hanya dari berapa banyak pasien yang sembuh, sebab tak semua kehidupan mampu diselamatkan oleh ilmu, seperti halnya kegagalan yang tidak selalu diakibatkan oleh kelalaian, dokter juga manusia, yang hanya bisa berupaya sekuatnya tapi takdir berada di tangan yang kuasa.

Dokter memang wajib jujur, rendah hati, terbuka terhadap kritik, tapi kejujuran juga harus berlaku juga pada situasi, bahwa ilmu kedokteran punya batas, tubuh manusia bervariasi, unik dan rumit serta setiap tindakan medis selalu mengandung risiko. Pasien punya hak bertanya, bahkan diberi informasi tanpa perlu tanya, tetapi dokter juga berhak untuk tidak serta merta dicurigai hanya karena hasil akhirnya tidak sesuai harapan.

Kegagalan sebuah tindakan medis, tak dengan sendirinya membuktikan buruknya pengabdian, sebaliknya dengan keberhasilan, hingga dokter takkan terlalu cepat merasa sebagai pahlawan ketika pasien sembuh, tetapi tidak pula terlalu mudah merasa sebagai terdakwa ketika pasien tidak tertolong. Dokter akan tetap tenang serta mengkaji teliti, tetapi tak berarti tak berempati.

Kesombongan seorang penolong dan ketakutan sebagai terdakwa, wajib dihindari karena sama sama menjauhkan manusia dari kebijaksanaan. Yang diperlukan adalah kesadaran bijak bahwa dokter bukan pemilik kehidupan tetapi penjaga ikhtiar, bekerja dengan ilmu, pengalaman, hati dan sumpah profesi, sementara hasil akhirnya tetap berada di ruang yang tak seluruhnya bisa dikendalikan. Dokter berupaya Tuhan berkuasa.

Di tengah zaman yang semakin terfragmentasi, ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan, kepercayaan menjadi sesuatu yang mahal. Karena itu, komunikasi, informasi dan edukasi hendaknya menjadi jembatan bagi dokter dan pasien. Jangan biarkan ruang yang semestinya dipenuhi percakapan kekeluargaan, menjadi kecurigaan yang berakhir di meja hijau pengadilan.

Dokter pun memiliki kewajiban sosial dan moral untuk tetap berpihak pada kebenaran, bahkan saat kebenaran itu, tak menguntungkan dirinya. Tetapi keberanian yang sama harus diberikan kepada dokter untuk berkata benar, saat dirinya diperlakukan tidak adil, sebab membela profesi bukan berarti membela kesalahan tetapi berada di garda terdepan pembelaan kemanusiaan.

Dunia boleh berubah tetapi bagi seorang dokter, yang tidak boleh berubah adalah ketulusannya melayani, memilih berdiri di sisi manusia lainnya, ketika sakit datang mengetuk pintu kehidupan. Dokter akan menjaga ilmu, hati dan kebenaran, karena ketiganya membuat jas putih dokter, tak hanya pakaian profesi tapi simbol kepercayaan yang layak dijaga dengan martabat.

Banjarmasin
11082026

Scroll to Top