MEMBANDINGKAN POLITICAL ANIMAL, POLITICAL IDIOT, DAN NEGARAWAN

Oleh: I Wayan Sugitha

Political animal (binatang politik) adalah orang-orang, termasuk penyelenggara negara, yang menggunakan arena negara untuk kepentingan diri sendiri dengan menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan. Mereka bersifat munafik.

Pandai mencitrakan diri sebagai orang yang disebut hebat. Tampil berorasi dan tampak akrab dengan rakyat miskin sehingga sangat meyakinkan.

Dengan penampilan gagah, pendidikan tinggi, lengkap dengan pakaian yang diatur oleh ahli busana, mereka mampu mengecoh masyarakat.

Dalam meraih kekuasaan, mereka menggunakan uang yang diperoleh dari pinjaman atau dibantu pengusaha kaya, sehingga melahirkan istilah “Peng-Peng”, yakni Penguasa-Pengusaha.

Political idiot mirip dengan political animal. Gebrakannya menggunakan terapi kejut. Salah satu maknanya, popularitasnya melejit dalam waktu singkat.

Rekam jejaknya tidak lazim, tetapi dikatakan hebat. Gonta-ganti partai. Kedua tipe politisi di atas berbeda dengan negarawan.

Negarawan adalah orang yang murni ingin menyejahterakan rakyat dengan menjunjung hukum dan keadilan.

Contohnya pada zaman penjajahan. Negarawan kita berani melawan walaupun harus mempertaruhkan dan mengorbankan jiwa. Mereka ditahan dan dibuang sebagai tahanan, tetapi tetap melawan tanpa sepeser pun dibayar dan tanpa dukungan konglomerat.

Melihat situasi bangsa saat ini, kita mendambakan sosok-sosok seperti Tjokroaminoto, Natsir, Hatta, Sjahrir, dan I.J. Kasimo. Beberapa di antara mereka adalah pemimpin politik.

Mereka adalah tipe negarawan par excellence. Pemikiran dan perilaku mereka menunjukkan kapasitas sebagai negarawan Republik.

Gagasan dan pemikiran para negarawan akan terus terjaga selama Indonesia masih berdiri tegak. Politisi bisa muncul dan tenggelam.

Namun, negarawan adalah sosok yang sulit dicari. Indonesia merindukan lahirnya negarawan baru seperti mereka.

(Kwik Kian Gie, “Negara dan Politikus”, Kompas, 3–4 April 2017; Sitok Srengenge, “Politikus”, Jawa Pos, 22 September 2013; Rakhmat Hidayat, “Kemerdekaan dan Kepemimpinan Altruistik”, Kompas, 19 Agustus 2025).

Selamat beraktivitas. Salam sehat para sahabat senior, yunior, pembaca budiman, dan Rahayu untuk Semua.

Scroll to Top